Yuk, Deteksi 5 Kesalahan Logika yang Mungkin Sering Kamu Dengar

Sebagai makhluk sosial, kita pasti selalu melakukan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Saat terjadi percakapan, kamu mungkin sering mendengar seseorang berbicara dengan kesimpulan yang menurutmu salah. Hal ini dikategorikan sebagai kesalahan logika.

Jika seseorang membuat kesalahan logika, argumentasi pun biasanya akan terjadi. Namun seringkali yang menjadi masalah adalah ketika kamu tahu bahwa yang dikatakan oleh temanmu adalah sebuah kesalahan, namun kamu tidak dapat memastikan atau mendeteksi di mana letak kesalahannya. Hal ini terkadang membuatmu menjadi geram.

Dalam konsep logika, terdapat banyak sekali tipe-tipe kesalahan logika. Dalam artikel berikut, kita akan membahas tentang 5 di antaranya, yakni kesalahan logika yang mungkin paling sering kamu dengar. Selain itu, di sini juga akan dibahas beberapa contoh dari setiap tipe kesalahan logika. Dengan demikian, kamu akan segera bisa ‘menembak’ letak kesalahan saat berargumentasi.

Red herring

Dalam bahasa sehari-hari, kamu mungkin sering mendengar istilah “Bahas apa, jawab apa”. Kesalahan logika semacam ini disebut dengan red herring fallacy, yakni kesalahan logika dalam argumentasi dengan membawa topik yang tidak relevan dengan topik yang sedang dibicarakan. Hal ini dilakukan untuk mengalihkan pembicaraan.

Salah satu contoh red herring dapat kita temukan pada hashtag yang pernah viral, yakni #PrayforAustralia. Hashtag ini menjadi salah salah satu perbincangan besar di jagat media sosial, termasuk Indonesia, saat terjadi kebakaran hutan di Australia.

Dengan beredarnya hastag tersebut, ada beberapa orang Indonesia di media sosial yang membuat pengalihan topik, seperti “Pray for Australia sih oke, tapi hutan di Riau juga banyak yang kebakaran.”

Meskipun sama-sama berbicara tentang kebakaran, pembicaraan tentang di Riau tentu sudah tidak relevan lagi dengan apa yang sedang viral.

False Dichotomy

Kesalahan logika yang satu ini ditunjukkan dengan adanya anggapan benarnya sebuah kemungkinan, sehingga kemungkinan lain terabaikan. Salah satu contohnya dapat kita lihat saat kampanye pemilihan presiden tahun 2019. Kamu mungkin sering mendengar ada orang yang mengkritik Jokowi dan ia disimpulkan sebagai pendukung Prabowo.

Penarikan kesimpulan tersebut tentu merupakan sebuah kesalahan logika, karena bisa saja orang itu mengkritik Jokowi karena ia ingin memberi masukan yang membangun. Atau kemungkinan lain, bisa saja ia bukan pendukung siapapun, baik Jokowi maupun Prabowo.

Tu Quoque

Halah, kamu juga sama!

Mungkin kamu sering mendengar pernyataan tersebut. Ini adalah contoh kesalahan logika Tu Quoque, yakni kesalahan logika yang terjadi ketika seseorang berargumen dengan menyerang karakter personal orang lain yang sama dengan pendapat yang disampaikan.

Perhatikan percakapan di bawah ini:

A: Jangan membuang sampah di selokan, nanti komplek kita kebanjiran.

B: Kamu juga sama. Dulu kamu pernah membuang sampah di selokan.

Pernyataan B termasuk kesalahan logika karena A berbicara tentang masa sekarang, bukan masa lalu.

Anecdotal

Tipe kesalahan berpikir yang satu ini mungkin sangat sering kamu temukan. Anecdotal fallacy dapat terjadi ketika seseorang tidak menggunakan data terpercaya untuk menyanggah sebuah argumen, melainkan memilih penggunaan pengalaman pribadi.

Contohnya sering terdengar dalam argumentasi mengenai rokok yang dapat merusak kesehatan. Mungkin kamu pernah mendengar orang berkata “Kakek saya sudah merokok dari dulu, namun hingga usia 93 tahun ia masih sangat sehat.”

Argumentasi tersebut tidak dapat dikatakan valid karena hal yang sama tidak mampu dibuktikan dengan pengalaman banyak yang sudah dilibatkan dalam penelitian.   

No True Scotsman

No True Scotsman dapat terjadi ketika seseorang mencoba mempertahankan sebuah generalisasi hingga ia menolak hal yang berada di luar sifat general tersebut.

Misalnya, seorang pekerja di yayasan peduli anak dikabarkan telah melakukan pelecehan terhadap anak. Kemudian ada sang pemilik yayasan membantah “Tidak mungkin ada pihak kami yang melakukan itu. Kami semua di sini sangat peduli terhadap anak-anak.”

Argumentasi tersebut merupakan sebuah kesalahan logika karena belum tentu semua yang bekerja di yayasan tersebut memang peduli terhadap anak. Lagipula, sudah ada fakta yang menunjukkan bahwa pelecehan terhadap anak memang mungkin dilakukan oleh pekerja yayasan.

Nah, itu dia 5 tipe kesalahan logika yang mungkin sering kamu dengar. Setelah bisa mendeteksinya, jangan marah lagi ya! Kamu bisa menjelaskan 5 hal di atas kepada lawan bicaramu ketika ia melakukan kesalahan logika.

Jika lawan bicaramu masih tetap kekeuh dengan argumentasinya yang jelas-jelas keluar dari topik pembahasan, relax! Cobain VELO dulu, cara baru merasakan sensasi nikotin, bebas asap dan bau bagi kamu pengguna produk nikotin yang sudah berusia 18 tahun atau lebih, bukan perempuan hamil atau menyusui.

Related Articles

Leave a Reply