Udeng Bali Bukan Sekedar Ikat Kepala Biasa?

Udeng adalah ikat kepala yang sering digunakan oleh masyarakat laki-laki di Bali. Udeng termasuk salah satu kelengkapan aksesoris dari pakaian adat Bali yang tidak pernah ketinggalan untuk dipakai, karena menjadi keunikan dan ciri khas dari pakaian tradisional masyarakat Bali.

Setiap suku di Indonesia mempunyai tradisi, budaya dan ciri khas nya masing-masing yang dilambangkan dengan pakaian adat, lagu daerah, senjata daerah ataupun tarian daerah.

Apalagi untuk Provinsi Bali yang terkenal dengan kekentalan adat istiadat yang mendunia. Tidak jarang wisatawan lokal dan internasional sering mempelajari lebih lanjut mengenai kebudayaan yang ada di Bali.

Salah satu ciri khas budaya yang tidak asing lagi yaitu Udeng sebagai pakaian adat bali. Apakah orang yang tinggal di Bali atau tidak menganut kepercayaan Hindu dapat mengenakan Udeng? Cari tahu lebih lanjut tentang hal tersebut di bawah ini.

Udeng Bali Tidak Sekedar Ikat Kepala

Budaya di Bali tidak pernah lepas dari filosofi atau makna yang terkandung di dalamnya. Baik dari nama ataupun cerita di balik sebuah benda. Sama saja dengan udeng. Udeng diambil dari kata jawa yaitu mudheng yang berarti paham dengan arti kehidupan.

Jika dilihat, udeng hanyalah ikat kepala biasa padahal jika dipahami dan mengerti ada makna dalam yang terkandung di dalamnya. Semua laki-laki Bali baik itu di tingkatan bangsawan atau rakyat biasa selalu menggunakan ikat kepala ini.

Tahukah kamu jika bentuk udeng tidaklah simetris. Bagian kirinya lebih rendah daripada bagian kanan. Nah, ternyata ini bukan unsur kesengajaan saja, ada maksud lain dari tidak simetris kanan dan kiri udeng tersebut.

Filosofi bentuk udeng yang lebih tinggi di bagian kanan mencerminkan harapan supaya banyak orang melakukan kebaikan dan tidak semua orang dapat membuat ikat kepala yang membutuhkan keahlian khusus saat membuatnya. Sedangkan ikat yang dikencangkan memiliki makna agar siapapun yang mengenakannya dapat mempunyai pikiran yang kuat, fokus dan tidak mudah berubah bagaimanapun kondisi dan situasinya.

Selain itu, ada lagi filosofi yang terkandung didalamnya yang terletak pada empat sudut kain yang merupakan satu kesatuan dari empat unsur yaitu niat, sikap, gerak tubuh dan ucapan. Sementara itu, sudut segitiga di bagian depan bermakna sebagai simbol tritunggal dengan arti manusia harus menjalani hidupnya untuk menjaga keharmonisan sesama manusia, alam semesta dan tuhan.

Kemudian, di bagian belakangnya ada dua ujung kain yang menjulang. Ini diartikan sebagai tujuan untuk memiliki iman sebagai landasan hidup pada Allah dan rasul utusan-Nya..

Wah, ternyata satu ikat kepala memiliki banyak sekali nilai penting yang terkandung di dalamnya ya!

Sulitnya Membuat Udeng Bali

Walaupun hanya sekedar ikat kepala saja, tetapi tidak sembarang orang yang diperbolehkan membuat ikat kepala dengan ukuran setengah meter ini. Biasanya, pengrajin yang membuat udeng datang dari daerah di Desa Sidemen di Karangasem, Bali.

Motif yang dibuat pun beragam, kamu akan menemukan dalam berbagai jenis dari polos, bercorak batik, metalik dan warna lainnya.

Frista Kurniasari
Talented professional good multitasking, organizational and verbal and written communication skills. Expertise includes writing content on topics such as Lifestyle, Humanity, Education and Travel.

Related Articles

Leave a Reply