Sesat Pikir: Antara Sesat Bahasa dan Sesat Relevansi, Mana yang Paling Bikin Kamu Relate?

Logika atau penalaran merupakan hal yang kerap dibawa-bawa saat kita melakukan debat atau memberikan argumen. Baik argumen lisan maupun tulisan pasti ada saja yang tidak sesuai fakta, bahkan tidak berkesinambungan dengan hal yang sedang terjadi atau dibicarakan.

Kesalahan dalam logika atau penalaran, atau yang sering disebut dengan istilah sesat pikir, merupakan sebuah bentuk penalaran yang sepintas terlihat atau terdengar benar, namun jika diteliti ternyata mengandung argumen yang salah.

Kita sebagai manusia yang melakukan interaksi dengan orang lain tentu sudah pernah atau bahkan sering melakukan sesat pikir. Hal ini bisa saja terjadi di luar kesadaran kita.

Secara garis besar, terdapat dua bentuk sesat pikir seperti yang akan dibahas di bawah ini.

Sesat Bahasa

Kasus sesat pikir juga dapat terjadi karena diawali dengan kesalahan bahasa. Hal ini bisa saja disebabkan oleh ketidakcermatan seseorang dalam memilih kata atau kalimat. Hal demikian disebut sebagai kesesatan bahasa.

Kesesatan bahasa sendiri dibagi menjadi dua, yaitu kesesatan aksentuasi dan kesesatan ekuivokasi.

Kesesatan eksentuasi dapat terjadi apabila terdapat penggunaan kata yang cara penulisannya dan dibaca dengan penekanan kata yang salah. Misal kata apel (buah) dan apel (upacara).

Sementara itu, kesesatan ekuivokasi dapat terjadi apabila ada penggunaan kata yang memiliki lebih dari satu arti (makna ambigu).

Sesat Relevansi

Selain itu, sesat pikir juga dapat terjadi karena ketiadaan hubungan antara premis dengan kesimpulan yang didapat. Hal demikian disebut dengan kesesatan relevansi.

Kasus ini mungkin merupakan kasus yang sangat sering kamu temukan di kehidupan sehari-hari. Orang yang melakukan sesat relevansi ditandai dengan adanya penyerangan hal-hal yang bersifat personal untuk memenang suatu argumen.

Sesat pikir yang berkaitan dengan kesesatan relevansi sendiri terdapat beberapa jenis seperti argumentum ad hominem, argumentum misericordiam, ignoratio elenchi, dan sebagainya.

Argumentum ad hominem terjadi karena seseorang membuat argumen bukan berdasarkan premis, tetapi berdasarkan hal-hal yang berkaitan dengan sifat pribadi orang lain.

Salah satu contohnya adalah adalah penyataan seperti: “Dia tidak tahu apa-apa tentang bisnis karena ia adalah lulusan arsitektur.”

Dalam hal ini orang yang melontarkan argumen mungkin berpikir bahwa orang yang mengerti bisnis adalah mereka yang lulus di bidang ekonomi dan bisnis saja. Ia merasa bahwa orang yang lulus dari pendidikan arsitektur tidak akan mengerti soal bisnis.

Argumentum ad misericordiam merupakan suatu penalaran yang terjadi dengan tujuan untuk memperoleh belas kasihan dari orang lain.

Contoh jenis sesat relevansi yang satu misalnya terjadi ketika seorang terdakwa meminta keringanan hukuman kepada hakim dengan alasan jika ia dihukum, keluarganya tidak akan bisa ternafkahi dengan baik.

Selain dua contoh di atas, bentuk sesat relevansi yang lain adalah ignoration elenchi. Sesat pikir ini akan aktif ketika seseorang menarik kesimpulan yang tidak berhubungan dengan premis.

Salah satu contoh ignoration elenchi sering kita dengar dalam perbincangan yang berkaitan dengan zodiak atau golongan darah. Misal, seseorang yang berzodiak Leo dengan golongan darah O kerap dianggap memiliki sifat yang keras kepala. Hal ini merupakan sebuah kesesatan penalaran karena orang dengan zodiak Leo dan golongan darah O belum tentu memiliki sifat yang keras kepala.

Contoh lain adalah argumen yang menyatakan bahwa semua selebritas hidup dalam kemewahan. Ini juga merupakan bentuk sesat pikir karena faktanya banyak selebriti yang hidup jauh dari kemewahan.

Nah itu dia 2 bentuk sesat pikir yang sering terjadi. Mana yang bikin kamu lebih relate?

Sesat pikir kerap terjadi karena orang-orang tidak fokus pada topik yang tengah dibahas karena sedang melakukan aktivitas lainnya dalam waktu bersamaan. Untuk mengatasinya, kamu bisa menggunakan VELO, produk kantong nikotin yang praktis tanpa pembakaran sebagai alternatif baru dalam merasakan sensasi nikotin buat kamu yang merupakan pengguna produk nikotin yang sudah berusia 18 tahun atau lebih, bukan perempuan hamil atau menyusui. 

Related Articles

Leave a Reply