Sejarah dan Fakta Lompat Tali Yang Harus Kamu Tahu!

Tanpa kamu sadari, sudah sejak awal waktu manusia memiliki naluri untuk lompat tali dari satu objek ke objek lainnya. Selain itu, manusia sudah beradaptasi di lingkungan terbuka sejak zaman nenek moyang. Naluri tersebut sudah menjadi refleks dari tubuh manusia. Hal ini sangat alami karena dipicu untuk melindungi diri, melarikan diri dari hewan berbahaya, mengumpulkan makanan ataupun berlari saat bertempur dengan musuh. 

Naluri paling penting adalah melompat yang menjadi refleks alami yang bisa dikembangkan menjadi keterampilan dalam bidang olahraga dan kesehatan salah satunya lompat tali. Aktivitas jumping rope sering dilakukan sebagai cara untuk mendapatkan kebugaran untuk orang-orang yang ingin menurunkan berat badan atau mempertahankan kesehatan mereka. 

Tetapi, sebelum membahas lebih lanjut mengenai manfaat jumping rope bagi tubuh, tahukah kamu kapan jumping rope pertama kali dilakukan? Simak sejarah dan fakta mengenai lompat tali berikut ini! 

Sejarah Lompat Tali 

Seiring berjalannya waktu, manusia mulai bereksperimen di kehidupan sehari-hari dengan cara menggabungkan gerakan melompat dengan benda yang bisa ditemukan di alam bebas.  

Sejak masyarakat Mesir dan Aborigin Australia menemukan tanaman merambat dan bambu di hutan, mereka secara inisiatif menggabungkan kedua benda tersebut untuk dijadikan sebuah permainan bernama jumping rope.  

Bukti nyata dari aktivitas jumping rope ditemukan pada lukisan di pertengahan abad di Eropa. Terlihat anak-anak bermain jumping rope di jalanan di lukisan tersebut. Walaupun, belum jelas kapan jumping rope mulai dilakukan, namun dapat diperkirakan sejak tahun 1600 SM di Mesir.  

Pada akhirnya pun, olahraga ini mulai menyebar ke wilayah lainnya melalui Eropa ke Belanda kemudian ke Amerika Utara. Pada awal 1940 hingga 1950,jumping rope menjadi permainan yang populer. Bagaimana tidak, permainan ini hanya membutuhkan tali, sehingga siapapun dapat bermain.  

Tetapi, kepopuleran permainan ini mulai meredup di akhir 1970-an di kalangan anak-anak dan dilanjutkan dengan kemunculan program jumping rope yang bermanfaat bagi kebugaran fisik dan kesehatan orang dewasa. 

Sejak saat itu, jumping rope telah dikenal sebagai cara yang bagus serta efektif untuk berolahraga. Lompat tali telah memberikan dampak di pusat kebugaran saat mereka menggabungkan jumping rope sebagai bagian dari latihan untuk orang yang memiliki nafas yang pendek. 

Selain itu, jumping rope mulai diintegrasikan ke dalam latihan kickboxing, yoga, bola bosu, bootcamp dan pilates. Biasanya, pelatih akan menggunakan lompat tali sebagai bagian dari pemanasan dan pendinginan yang akan meningkatkan kinerja atletik di keseluruhan tubuh.  

Sedangkan bagi terapis fisik, lompat tali digunakan sebagai latihan dengan tingkat intensitas yang rendah untuk merehabilitasi dan memperbaiki pergelangan kaki dan lutut yang cedera. 

Fakta Lompat Tali 

Pernahkah kamu mendengar mitos tentang jumping rope yang dapat menjadi cara untuk menambah tinggi badan? Apakah benar hal tersebut bisa memberikan efek tinggi?  

Ada faktor yang harus kamu ketahui nih, bahwa tinggi badan seseorang dipengaruhi oleh gen dari orang tua. Jika orang tua kamu tidak tinggi, maka anak nya akan mendapatkan postur badan yang sama.  

Tetapi tinggi badan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, yang paling penting adalah nutrisi makanan serta aktivitas yang rutin dilakukan.  

Oleh karena itu, jika kamu memiliki gen yang pendek, kamu tetap bisa berolahraga dengan lompat tali kok untuk meninggikan badan kamu. 

Efek Jumping Rope Pada Pertumbuhan Tubuh 

Setelah terjadi perdebatan mengenai metode meninggikan badan dengan jumping rope, hal itu sudah terjawab bahwa kamu bisa saja berusaha menambah tinggi badan dengan lompat tali.  

Penasaran gimana kamu bisa tumbuh tinggi hanya dengan lompat-lompat aja? Karena, ketika tubuh melepaskan hormon pertumbuhan atau HGH untuk memberikan dukungan secara maksimal ketika berolahraga.  

Jika kamu melakukan aktivitas fisik seperti olahraga secara rutin, akan memberikan kekuatan pada struktur tulang dan otak. Maka dari itu, saat jumping rope, tulang dilatih untuk menerima beban lebih banyak dari berat badan kamu. Beban yang ditopang inilah yang memicu sel tulang untuk diregenerasi kembali.  

Tidak Semua Orang Bisa Tinggi Dengan Olahraga Ini 

Ternyata, tidak semua orang bisa menambahkan tinggi dengan olahraga ini. Kamu bisa mendapatkan hasil dari jumping rope, jika sudah rutin melakukan sejak kecil.  

Karena, tinggi badan manusia akan berhenti berkembang saat menginjak usia 18 tahun bagi pria dan 16 tahun pada wanita. Efek dari olahraga ini tidak akan memberikan pengaruh saat kamu melewati batas usia tersebut.  

Hal ini disebabkan oleh lempeng epifisis atau bagian tulang panjang telah menutup dan akan menyusut saat berusia di atas 40 tahun.  

Namun, jangan menyerah untuk melakukan olahraga ini. Sebab tetap memberikan manfaat bagi tubuh seperti memperkuat otot, menjaga kepadatan otot dan kekuatan tulang. Manfaat tersebut akan mencegah pengeroposan tulang di masa tua dan menjaga tulang agar semakin kuat. 

Manfaat Olahraga Jumping Rope 

Lompat tali memiliki manfaat yang banyak. Misalnya saja bisa membantu membentuk otot tubuh bagian atas dan bawah dan meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah.  

Karena jumping rope berfokus pada kecepatan, tentunya akan membuat jantung lebih cepat berdetak. Jika kamu melakukan secara rutin akan memberikan kekuatan pada jantung serta menurunkan risiko penyakit jantung. 

Selain itu, kamu juga bisa membakar kalori lebih banyak jika ingin menurunkan berat badan. Pasalnya, hanya 20 menit lompat-lompat saja sudah bisa membakar 200 kalori loh. 

Frista Kurniasari
Talented professional good multitasking, organizational and verbal and written communication skills. Expertise includes writing content on topics such as Lifestyle, Humanity, Education and Travel.

Related Articles

Leave a Reply