Bartender, Sang Peracik Minuman yang Sudah Eksis Sejak Zaman Julius Caesar

Ada tangan-tangan terampil dibalik segarnya sajian cocktail atau mocktail. Bagi seorang bartender, kepiawaiannya dalam seni meracik minuman menjadi modal pertaruhan untuk keberlangsungan bisnisnya. Di Indonesia, profesi ini sudah cukup lazim di kota-kota besar. Bahkan, enggak sedikit bartender lokal yang sukses mengantongi prestasi dari ajang-ajang kompetisi bartender internasional.

Dalam industri F&B, peran bartender punya banyak persamaan dengan staf front office yang saban hari mejeng di lobi hotel atau perkantoran. Tingkat kepuasan konsumen suatu restoran, cafe, atau bar sangat bergantung pada kualitas layanan mereka. Dengan demikian, seorang bartender tidak hanya dituntut untuk jago bikin minuman enak, tapi juga punya skill interpersonal yang baik.

Sejarah Awal Bartender

Source: Ilona Frey via Unsplash

Sebetulnya, bartending bukanlah produk baru peradaban masa kini. Sejarah bartending bisa dilacak mundur hingga ke zaman Kuno Yunani, Romawi, hingga Asia. Jauh sebelum zaman modern lahir, ketika Julius Caesar masih bertengger di singgasananya, pekerjaan semacam ini sudah mulai dilakoni orang-orang.

Pada masa Romawi Kuno, di sepanjang rute populer yang biasa dilalui para pengelana, terdapat rumah-rumah yang sekarang kita kenal sebagai kedai minum alias bar. Seandainya kita bisa kembali ke masa itu, kita akan melihat pemandangan yang familiar. Seseorang yang nampaknya pemilik kedai menuang minuman ke dalam gelas.

Orang-orang biasa mampir untuk istirahat, berbaur, sambil menenggak anggur sebelum melanjutkan perjalanan. Kedai minum juga banyak ditemukan di pusat kota.

Selama Abad Pertengahan, bartending mulai menjadi profesi penuh. Status bartender dipandang sebagai kasta elit karena mereka bisa mengumpulkan kekayaan dari pekerjaan tersebut. Kedai minum zaman kuno segera berubah menjadi bar dan pub, khususnya di Inggris. Tempat ini mulai identik sebagai lokasi nongkrong kaum sosialita untuk minum sambil bergosip.

Kolonialisme dan Dunia Baru

Source: VinePair/FOTO

Seiring dengan gencarnya penjelajahan bangsa Eropa hingga ditemukannya Dunia Baru, praktik bartending turut dibawa ke wilayah koloninya. Belum sampai beberapa abad setelah penemuan benua Amerika, bartending akan sepenuhnya mengubah kebiasaan minum masyarakat dunia.

Pada abad ke-19 muncul satu sosok yang memulai itu semua. Jeremiah “Jerry” Thomas (1830-1885), yang kini dikenal sebagai Bapak Mixologi Amerika, membuat kagum para pengunjung hotel Occidental di San Francisco, tempatnya sehari-hari menjalankan praktik bartending.

Caranya meracik minuman sungguh enggak biasa. Jerry tampil berbalut setelan necis dan sederet cincin berlian. Sama atraktifnya dengan minuman yang dia bikin. Seorang pengunjung dibuat heran dengan minuman yang sama sekali asing; campuran aneh seperti krusta, smash, dan aster, tapi enak bukan main. 

Alkisah, Jerry dulunya belajar soal minuman di New Haven, Connecticut sebelum hijrah ke California selama masa Gold Rush. Jerry jugalah yang pertama kali menulis dan menerbitkan buku meracik minuman alkohol di Amerika Serikat, “How to Mix Drinks”.

Kepiawaiannya meramu minuman membuat Jerry tersohor sampai ke Eropa. Konon, selama bekerja di hotel Occidental, setiap minggunya dia bisa membawa pulang penghasilan hingga US$100. Pendapatan ini lebih tinggi dibanding gaji Wapres Amerika Serikat kala itu.

Flair Bartending

Bartender
Source: Ivan Cortez via Unsplash

Pengaruh Jerry tidak sampai disitu. Aksi uniknya dalam membuat minuman kemudian berkembang menjadi Flair Bartending atau disebut juga Extreme Bartending. Penyajian minuman menjadi lebih menghibur lewat aksi Flair Bartending.

Flair sendiri berarti trik-trik khusus yang diterapkan bartender untuk menarik perhatian pengunjung pada saat meracik minuman. Aksi-aksi seperti melempar botol atau juggling, memutar botol/shaker, menyulut minuman dengan api hingga bar-magic adalah beberapa teknik Flair bartending yang paling umum.

Untuk mengapresiasi bakat-bakat para bartender di seluruh dunia, maka sejak tahun 1998 kompetisi Flair Bartending internasional mulai diselenggarakan. Berikut adalah beberapa kompetisi terbesar yang sudah sempat digelar:

  • Roadhouse World Flair in – London, UK.
  • Legends of Bartending – Las Vegas, AS
  • Quest – Orlando, AS
  • Skyy Global Flair Challenge – worldwide
  • Crazy Beach World Flair Competition – Cosenza, Italia
  • Flairmania – Riga, Latvia
  • Stars War Championship – Bali, Indonesia
  • Titans World Open – Moscow, Rusia
  • Ultimate Flair – Tokyo, Jepang
  • Flair Battle Rome – Roma, Italia
  • Old Skool Rules – London, UK

Bartender & Barista, Apa Bedanya?

Bartender
Source: quan le via Unsplash

Diluar topik utama ini, ada sesuatu yang menarik tentang penggunaan istilah bartender yang selalu dikaitkan dengan minuman alkohol, sedangkan barista dianggap hanya membuat kopi. Secara harfiah, bartender yang berasal dari kosakata bahasa Inggris dan barista dari bahasa Italia punya arti yang sama, yaitu ‘pramutama bar’.

Di Italia, profesi ini tidak cuma meracik kopi, tapi segala macam minuman tanpa kecuali alkohol. Profesi peracik kopi diperkirakan sudah eksis sejak abad ke-15, saat kedai kopi pertama kali hadir di Mekah, Arab Saudi.

Sejak semula, tempat ngopi memang sudah digunakan untuk santai, ngobrol, dan bermain catur oleh warga sekitar. Lama-kelamaan, kedai kopi mulai menjamur hingga ke luar kawasan  Mekah seiring meluasnya perdagangan kopi.

Di Eropa sendiri, kedai kopi muncul pertama kali di Venesia, Italia, pada tahun 1629. Yang kemudian menyebar ke Inggris, Perancis, Portugal, Rumania, Swiss, dan tempat lain. Meski perkembangannya sudah dimulai sejak tahun 1600-an, istilah barista sebagai peracik kopi baru muncul di Amerika Serikat.

Pada tahun 1900-an, banyak imigran Italia yang membuka kedai kopi khas negara asalnya. Kedai kopi pada masa saat itu banyak dijumpai di kawasan padat penduduk asal Italia, seperti New York, Little Italy, Boston, dan Greenwich Village.

Penduduk lokal biasa menyapa dengan sebutan barista kepada pembuat kopi dari Italia saat itu. Hingga lambat laun panggilan ini lazim digunakan untuk menyebut peracik kopi. Popularitasnya turut berkembang setelah asosiasi-asosiasi barista di setiap negara bermunculan.

Sebenarnya tidak ada perbedaan antara barista dan bartender, hanya saja dominasi orang Amerika membawa nama barista di dunia, yang akhirnya diikuti negara lain dan menjadi lazim. Keduanya sama-sama harus meracik minuman dan melayani pelanggan dengan keahlian, peralatan, dan kode etik.

Mau tahu info menarik lainnya seputar bartender dan seluk-beluk profesi ini? Simak update artikel selanjutnya dari VELO, kantong nikotin bebas tembakau pertama di Indonesia yang bisa dinikmati kapan saja, tanpa asap, dan bebas ribet!

Tersedia dalam aneka varian rasa mulai dari Berry Frost, Tropic Mix, Polar Mint, dan varian unik lainnya, yang bisa kamu pilih sesuai selera. Produk nikotin ini dikhususkan untuk yang sudah berusia 18 tahun ke atas, pengguna produk nikotin, tidak sedang hamil atau menyusui. 

Hengky
For the last few years, Hengky living as a digital nomad and currently settled in Denpasar. As a writer, he is interested in a certain topic such as pseudoscience, culture, art, and lifestyle.

Related Articles

Leave a Reply