Begini Proses Terjadinya Aurora di Kutub Selatan

Pemandangan cahaya aurora di langit malam kutub sangat cantik sehingga membuat siapapun yang melihatnya terpukau. Aurora adalah fenomena alam berupa cahaya menyala-nyala dan menari-nari di langit malam.

Sayangnya, tidak banyak orang yang pernah menikmatinya. Fenomena ini hanya bisa dilihat di negara yang jauh dari garis katulistiwa. Dibalik keindahannya tersebut, apakah kamu tahu bagaimana proses terjadinya Aurora?

Berikut ini adalah beberapa proses penyebab terjadinya aurora di langit kutub:

Medan Magnet Matahari

Image source: unsplash

Medan magnet matahari yang tidak stabil bisa membentuk sun spot atau bintik matahari. Bintik matahari ini adalah area gelap matahari dan area dingin matahari yang berukuran sekitar 50.000 kilometer dengan suhu 3800 derajat Kelvin.

Badai Matahari Akibat Meledaknya Sunspot

Image source: unsplash

Medan magnet yang kian tidak stabil dan tingginya intenaitas aliran konvekai dalam pusat matahari menyebabkan daerah sunspot yang memiliki suhu dingin meningkat.

Tekanan arus secara konstan membuat sunspot pecah sehingga akhirnya membentuk lidah api dan melepaskan partikel-partikel bermuatan yang akhirnya menyebabkan badai matahari terlontar ke bumi.

Lontaran Badai Matahari Masuk ke Bumi

Image source: unsplash

Magnetosfer adalah lapisan langit yang dipengaruhi oleh garis daya magnet bumi, berfungsi untuk melindungi bumi dan seisinya dari terjangan benda-benda dan partikel ruang angkasa yang sangat berbahaya bagi kehidupan.

Gaya garis medan magnet ini melingkupi bumi hingga jarak 10 kali radius bumi pada sisi bumi yang masih siang hari, dan pada sisi bumi yang malam hari mampu mencapai ratusan kali dari jari-jari bumi itu sendiri.

Sehingga, saat pertama kali badai matahari mencapai bumi maka, partikel yang dibawa oleh angin surya (solar wind) akan terbagi menjadi dua bagian, pertama dibelokkan kesekeliling bumi ke dalam suatu area yang disebut sebagai magnetosheath, kedua ada sebagian partikel yang masuk kedalam lapisan atmosfer.

Namun pada sebagian partikel yang menembus tersebut juga tidak dapat masuk ke atmosfer bumi karena masih harus menghadapi pertahanan kedua dari bumi yakni Sabuk Radiasi Van Allen. Pada lapisan tersebutlah partikel angin surya terjebak.

Partikel Angin Terjebak di Atmosfer

Image source: unsplash

Saat partikel masuk ke atmosfer terjebak di Sabuk Van Allen, partikel-partikel angin matahari akan menggerakan sejumlah besar listrik di atmosfer ke medan magnet terkuat di bumi yang terletak di Kutub utara dan kutub selatan.

Semakin dekat dengan medan magnet Bumi, maka auroranya akan terlihat makin besar dan jelas. Sebaliknya, semakin menjauh dari kutub, maka medan magnet Bumi semakin lemah.

Ionisasi Partikel Angin di Ionosfer

Image source: unsplash

Proton dan elektron yang luar biasa besarnya di atmosfer (sabuk Van Allen) akan dibawa oleh angin surya ke lapisan ionesfer yang nantinya akan terionisasi. Pada lapisan tersebutlah tempat cahaya aurora terjadi dan Itulah juga yang menjadi alasan kenapa aurora berada di tempat yang tinggi.

Pada ketinggian di atas 241 km aurora yang tampak umumnya adalah warna merah. Pada ketinggian 241 km maka tampak warna hijau. Pada ketinggian 96,5 km ke atas tampak warna ungu, dan pada ketinggian 96,5 maka tampak warna biru. 

Untuk mendapatkan info menarik lainnya, simak update artikel terbaru dari VELO, kantong nikotin bebas tembakau super praktis dengan aneka varian rasa unik!

Kantong nikotin VELO 100% bebas tembakau dan bisa kamu nikmati kapan saja dan dimana saja. VELO dikhususkan bagi pengguna produk nikotin berusia 18 tahun ke atas dan tidak sedang hamil atau menyusui.

Penasaran dengan sensasi nikotinnya? Langsung saja kunjungi situs VELO Indonesia!

Hengky
Crafting stories about social issues, pop culture, & common knowledge.

Related Articles

Leave a Reply