Profil 5 Pengusaha Terkaya di Indonesia yang Sangat Inspiratif

Kesuksesan tidaklah datang secara instan, tetapi dibutuhkan usaha keras untuk dapat meraihnya. Begitu pula dengan orang-orang yang sudah berhasil mencapai puncak kesuksesan dalam hidup mereka. Tentu saja mereka memulai semuanya dengan usaha yang maksimal.

Di Indonesia banyak pengusaha yang sukses dalam bisnisnya dan kemudian dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia. Mau tahu profil singkatnya? Simak ulasan tentang 5 pengusaha terkaya di Indonesia berikut ini!

R. Budi & Michael Hartono

Pengusaha Terkaya di Indonesia
Image source: Pluang.com

Pemilik Djarum dan BCA yang jadi orang terkaya di Indonesia Hartono bersaudara memperoleh kekayaannya dari investasi di Bank Central Asia (BCA). Sumber kekayaan Hartono bersaudara juga berasal dari bisnis rokok Djarum yang sebelumnya dimiliki oleh ayah mereka, Oei Wie Gwan yang meninggal pada 1963. 

Hartono bersaudara mulai mengekspor rokok pada 1972 dan menciptakan rokok kretek mesin pertama mereka, yaitu Djarum Filter pada 1976. Saat ini, mereka memiliki sekitar 60.000 pekerja di pabrik wilayah Kudus, Jawa Tengah, serta memiliki kekayaan atas merek elektronik Polytron dan real estate di Jakarta.

Prajogo Pangestu 

Image source: Katadata.co.id

Prajogo Pangestu memulai bisnisnya di bidang perkayuan pada akhir 1970-an. Ia memiliki perusahaan Barito Pacific Timber yang go public pada 1993, kemudian berganti nama menjadi Barito Pacific pada 2007 dan mengakuisisi 70 persen perusahaan petrokimia Chandra Asri. 

Pada 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terbesar di Indonesia. Ia menambah kepemilikan saham di Chandra Asri sebesar 6.813.400 lembar saham atau setara dengan 0,0038 persen dari total saham yang dimiliki perusahaan.

Anthoni Salim

Image source: VOI.id

Anthony Salim diketahui merupakan pemilik dari salah satu jaringan minimarket Indomaret yang tersebar di Indonesia. Selain itu beliau juga memegang hak waralaba cepat saji KFC Kentucky Fried Chicken yang banyak bertebaran di Indonesia. 

Ia mewarisi kerajaan bisnis Salim Group dari sang ayah, Sudono Salim, yang tersebar di berbagai sektor usaha seperti perbankan, industri makanan, bahan bangunan, dan lain-lain. 

Namun, ketika mewarisi kerajaan bisnis dari ayahnya, Anthony Salim menghadapi kenyataan bahwa Salim Group mempunyai hutang yang cukup banyak sekitar 55 triliun imbas dari krisis moneter 1998 yang membuat bisnis Salim Group hampir bangkrut.

Anthony Salim kemudian berusaha memperbaiki perusahaannya dengan cara melebur atau menjual beberapa anak perusahaan Salim Group yaitu bank BCA PT Indocement dan PT Indomobil sebagai langkah untuk melunasi hutang yang sedang dihadapi oleh perusahaan Salim Group.

Sri Prakash Lohia

Image source: Alterra Bills

Sri Prakash Lohia bersama ayahnya, Mohan Lal Lohia pindah dari India dan merintis bisnisnya dengan berjualan kain di Indonesia. Selang tiga tahun, ia mendirikan pabrik benang Indorama Synthetics di Purwakarta.

Prakash menggelontorkan 10 juta dollar AS sebagai modal awal. Pada 1992, ia melakukan diversifikasi, dengan merambah bisnis polyethylene yang merupakan bahan baku botol plastik seperti Coca-cola, Pepsi, dan Aqua. Prakash juga mendirikan Indorama Ventures.

Saat ini, usahanya mencakup Indorama Shebin, Indorama IPLIK dan ISIN Lanka dengan produk memproduksi polyster, PET resin, polyethylene, polypropylene, hingga kain sarung tangan medis. 

Pada 1995, Indorama masuk ke bisnis real estate. Saat ini, bisnis Indorama sudah tersebar di 25 negara, termasuk di Asia Afrika dengan total karyawan mencapai 25 ribu orang. Saat ini, Prakash hanya mengamati bisnisnya dari Singapura. 

Susilo Wonowidjojo

Image source: VOI.id

Gudang Garam sukses bertahan selama puluhan tahun sebagai salah satu perusahaan rokok terkemuka di Indonesia. Pencapaian itu tak lepas dari peran Susilo Wonowidjojo selaku pemimpin dari perusahaan ini.

Sosok laki-laki yang telah menjabat sebagai Presiden Direktur Gudang Garam sejak tahun 2009 ini memang jarang tampil di hadapan media. Namun, perannya untuk memajukan perusahaan warisan ayahnya tidak bisa dipandang sebelah mata.

Berkat Susilo, produksi rokok Gudang Garam bisa terus mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi permintaan pasar. Mulai dari penggunaan mesin untuk pembuatan rokok, produksi rokok kretek yang rendah nikotin dan tar (mild), hingga teknik membuat filter rokok yang sudah dipatenkan di Amerika Serikat.

Tercatat dalam laporan tahunan 2018, volume penjualan produksi rokok Gudang Garam berada di angka 85,2 miliar batang. Sementara itu, pangsa pasar perusahaan ini di Indonesia juga mengalami kenaikan dari 21,4% menjadi 23,1%.

Demikianlah profil 5 pengusaha terkaya di Indonesia yang bisa menjadi sumber inspirasi. Simak juga update informasi yang tak kalah menarik lainnya bersama VELO, kantong nikotin bebas tembakau pertama di Indonesia yang praktis dan simple!

VELO tersedia dalam aneka varian rasa unik seperti Berry Frost, Tropical Mix, Polar Mint, dan Ruby Berry. Kantong nikotin ini ditujukan bagi pengguna nikotin berusia 18 tahun ke atas dan tidak sedang hamil atau menyusui.

VELO akan menemani keseruan aktivitasmu kapan saja dan dimana saja tanpa khawatir mengganggu kenyamanan orang di sekitar, karena kantong nikotin ini sepenuhnya bebas asap!

Hengky
Crafting stories about social issues, pop culture, & common knowledge.

Related Articles

Leave a Reply