Penerjun Payung Perempuan Asal Indonesia Ini Bikin Kagum!

Selain skydiving yang jadi olahraga ekstrem ternyata ada penerjun payung asal Indonesia bernama Neila Novaranti. Neila berhasil menjadi salah satu wanita di dunia yang menaklukan tujuh benua di dunia dengan aksi terjun payung. 

Pada tahun 2009, untuk pertama kalinya Neila mencoba olahraga terjun payung dan langsung jatuh cinta pada aktivitas yang ekstrem ini. Penasaran bagaimana Neila meniti karir sebagai penerjung payung Internasional?

Perjalanan Neila dibawah ini bisa jadi salah satu motivasi kamu untuk melakukan hal-hal diluar zona nyaman kamu!

Awal Mula Kecintaan Neila dengan Olahraga Terjun Payung

Sebelum Neila berhasil menggapai kesuksesan, ia dikenal sebagai perempuan yang bekerja sebagai atlet sekaligus instruktur olahraga skydiving. Ternyata, Neila sudah memiliki kemampuan dasar terjun payung. Namun, seiring berjalannya waktu ia belum mendapatkan waktu yang tepat untuk menekuni kecintaannya pada alam bebas. 

Neila harus bekerja sebagai Marketing Staff pada tahun 2006 di sebuah perusahaan di Florida. Dia yang memasarkan produk peralatan terjun payung bernama Aerodyne di Florida, Amerika Serikat.

Setelah menjalani pekerjaannya di bagian pemasaran, akhirnya Neila meningkatkan rasa penasarannya di skydiving dengan mengasah ilmunya di United States Parasut Association (USPA) di Amerika Serikat. 

Neila berhasil menjadi atlet wanita pertama Indonesia yang menjadi salah satu tim skydiving Internasional.

Penerjun Payung Dengan Lokasi Tersulit!

Menjadi Penerjun Payung Perempuan yang Mendarat di Antartika

Olahraga skydiving sudah bukan rahasia umum lagi menjadi aktivitas yang ekstrim untuk dilakukan, tapi tidak bagi Neila. Perempuan yang lahir di Jakarta pada tahun 1981 ini berhasil menyelesaikan misi pertama di Antartika pada tanggal 5 Desember 2019 sebagai wanita pertama di Indonesia.

Suatu kebanggan bagi Neila saat mengibarkan bendera Merah Putih di lokasi paling tersulit dan berbahaya di dunia, yaitu di Kutub Selatan dengan ketinggian sekitar 13.500 kaki. 

Seperti yang kita tahu, Antartika menjadi lokasi yang sulit ditaklukan. internasional karena suhu yang dingin, akses yang sulit dan angin yang sulit diprediksi. Salah satu cara Neila untuk mengatasi ini semua yaitu dengan melakukan perhitungan yang tepat saat mendarat dan memilih parasut dengan ukuran lebih besar daripada yang biasanya digunakan.

Berhasil Menaklukan Gunung Everest

Sebelum Neila mendarat di Antartika, ternyata ia juga telah berhasil mendarat di Gunung Everest, sebagai gunung tertinggi di dunia pada tanggal 16 November 2018 tanpa cedera dengan sukses. 

Kesuksesan Neila mendapatkan penghargaan atas rekornya menjadi satu-satunya penerjun payung asal Indonesia yang terjun bebas dari atas langit Gunung Everest. Neila memiliki tekad untuk menaklukan lokasi-lokasi yang sulit, tujuannya pun membawa Neila di puncak kesuksesan. 

Berhasil Mendapatkan Sederet Penghargaan

Sulit untuk mencapai mimpi di hidup, tapi Neila membuktikan hal itu. Walaupun, olahraga terjun payung tergolong sangat ekstrem dan sulit, tapi itu tidak menggoyahkan Neila untuk tetap melatih kemampuannya. 

Perjalanan karir Neila mendapat sederet penghargaan, salah satunya meraih Women of the Year 2019 dari Her World Indonesia. Neila juga memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap kesejahteraan dan kesetaraan perempuan lainnya.

Tidak hanya itu, penghargaan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang menjadikan neila sebagai ikon pancasila, membuat ia terus berusaha semaksimal mungkin untuk memotivasi perempuan lainnya untuk keluar dari zona nyamannya dan terus mengejar mimpi.

Walaupun telah mewujudkan tujuan dan mimpi-mimpinya, tidak membuat ibu tiga anak ini berhenti. Selama memiliki kesehatan, Neila akan terus mengejar karirnya sebagai penerjun payung.

Frista Kurniasari
Talented professional good multitasking, organizational and verbal and written communication skills. Expertise includes writing content on topics such as Lifestyle, Humanity, Education and Travel.

Related Articles

Leave a Reply