Mengenal Olahraga Ekstrim Panjat Tebing dan Berbagai Jenisnya

Panjat tebing atau dikenal juga sebagai rock climbing merupakan salah satu olahraga yang cukup populer di dunia. Biasanya aktivitas ini banyak ditekuni oleh para pecinta alam. Pada dasarnya, panjat tebing masih termasuk aktivitas mountaineering (kegiatan eksplorasi gunung/ tempat-tempat tinggi), namun dibedakan berdasarkan medan yang dilalui.

Panjat tebing juga dikenal sebagai kegiatan yang sangat memacu adrenalin. Sebab, olahraga ini bukan sekadar aktivitas mendaki gunung biasa. Kita harus menghadapi medan khusus berupa perbukitan atau tebing, yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki, melainkan menggunakan peralatan dan teknik-teknik khusus untuk memanjat.

Sejarah Panjat Tebing

Panjat Tebing
Source: Manfred Richter via Pixabay 

Tidak ada yang tahu persis sejak kapan olahraga ini kali pertama dilakukan. Namun, sebuah lukisan dari tahun 200 SM di Cina mengungkapkan bahwa aktivitas ini sudah dilakukan orang-orang sejak lama. Dalam lukisan tersebut, tampak seorang pria yang sedang mendaki sebuah tebing. Selain itu, orang-orang dari suku Indian kuno dan Anasazi juga terkenal sebagai pemanjat handal.

Rock climbing baru dikenal sebagai aktivitas olahraga pada dekade 1880-an. Saat itu, orang-orang Eropa sudah cukup akrab dengan panjat tebing, dan menjadi kegiatan tersendiri yang terpisah dari pendakian gunung biasa. Gunung Victoria di Pegunungan Alpen, Austria, menjadi lokasi awal dimulainya olahraga ini.

Sejak saat itu, panjat tebing mulai berkembang menjadi olahraga populer. Namun, pada masa itu panjat tebing masih dilakukan tanpa alat bantu. Bisa dibayangkan betapa menakutkannya memanjat medan ekstrim tanpa alat pengaman? Barulah pada tahun 1920 orang-orang mulai menggunakan alat pengaman, bersamaan ketika para pemanjat mulai tertarik menempuh medan ekstrim yang muskil ditaklukan tanpa alat bantu. 

Olahraga rock climbing mengalami kemajuan pesat pasca Perang Dunia-II. Setelah pertempuran yang menewaskan 85 juta jiwa tersebut, berbagai industri di dunia yang semula hanya fokus membuat peralatan perang, mulai menyediakan alat-alat bantu untuk memudahkan pekerjaan sehari-hari.

Rock Climbing di Indonesia

Source: Vlix.id/FOTO

Awal mula popularitas rock climbing di Indonesia bisa dilacak pada sekitar tahun 1960-an. Tebing 48 di Citatah, Bandung, mulai digunakan sebagai lokasi latihan panjat tebing TNI. Tahun 1976 merupakan awal mula panjat tebing modern di Indonesia berkembang, yaitu ketika Harry Suliztiarto mulai berlatih memanjat di Citatah, yang kemudian mendirikan komunitas Skygers ”Amateur Rock Climbing Group” pada tahun 1977 bersama tiga orang rekannya, Heri Hermanu, Dedy Hikmat, dan Agus R.

Tahun 1979, Harry Suliztiarto melakukan aksi memanjat di atap Planetarium Taman Ismail Marzuki di Jakarta. Aksi ini merupakan upaya promosi olahraga rock climbing di Indonesia. Setelah panjat tebing mulai populer, Skygers mendirikan Sekolah Panjat Tebing pertama pada tahun 1981.

Sepanjang tahun 1980-an, olahraga ini berkembang pesat dan menarik banyak perhatian.  

Pada tahun 1984, Skygers dan Gabungan Anak Petualang memanjat Tebing Lingga di Trenggalek, Jawa Timur serta Tebing Uluwatu di Bali.

Pada tahun 1986, Kelompok Gabungan Exclusive berhasil memanjat Tebing Bambapuang di Sulawesi Selatan, lalu Kelompok Unit Kenal Lingkungan Universitas Padjadjaran memanjat Gunung Lanang di Jawa Timur, sementara tim Jayagiri merampungkan Dinding Ponot di Bendungan, Sigura-gura, Sumatera Utara.

Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) tahun 1989 dengan mengundang para pemanjat Perancis, diantaranya yaitu Patrick Bernhault, Jean Baptise Tribout, Corriene Lebrune, dan seorang instruktur teknis panjat tebing Jean Harau yang kemudian menginisiasi berdirinya FPTGI (Federasi Panjat Tebing Gunung Indonesia).

Berdirinya FPTGI diikrarkan di Tugu Monas pada 21 April 1988 yang dilakukan oleh sekitar 40 orang. Selanjutnya, FPTGI berubah nama menjadi FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia), kemudian pada tahun 1992 diakui sebagai anggota Union Internationale des Associations d’Alpinisme (UIAA) yang mewadahi organisasi panjat tebing dan gunung internasional.

Tahun 1994, FPTI diakui sebagai induk olahraga rock climbing oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan mulai diikutsertakan dalam PON pada 1996.

Berbagai Macam Teknik Rock Climbing

Panjat Tebing
Source: Orkes News/FOTO

Dalam buku How to Rock Climb: Face Climbing, John Long menjelaskan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit mengenai beberapa gaya panjat tebing:

  • Onsight Free Solo

Istilah onsight berarti memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat di jalur tersebut. Jadi, jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Sedangkan solo berarti tunggal. Jadi, onsight free solo berarti pemanjatan untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apapun tentang jalur yang ia lalui.

  • Free Solo

Free solo adalah teknik pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tapi pernah mencoba walaupun belum menguasai jalur tersebut.

  • Worked Solo

Worked solo adalah memanjat suatu jalur yang pernah dicoba berulang kali hingga benar-benar hapal mati seluk beluk permukaan tebing.

  • Onsight Flash/Vue

Onsight flash atau disebut juga vue adalah memanjat suatu jalur yang tidak dikenali, tanpa ada informasi tentang pemanjat lain di jalur yang sama, tidak pula memiliki informasi apa-apa tentang jalur tersebut. Teknik ini menggunakan tali sebagai perintis jalur (leader) dan memasang pengaman (running belay). Pemanjat juga tidak sekalipun jatuh dan tidak mengambil nafas/istirahat di sepanjang jalur.

  • Beta Flash

Pemanjatan tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat di jalur tersebut, namun telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pemanjat kemudian memanjatnya tanpa jatuh dan tanpa istirahat sepanjang jalur.

  • Déjà vu

Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian lama, pemanjat kembali dengan sedikit ingatan tentang jalur tersebut dan berhasil menuntaskan jalur dalam satu kali percobaan.

  • Red Point

Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh dan memanjat sambil memasang pengaman sebagai perintis jalur.

Bagaimana? Tertarik untuk menguji adrenalin dengan olahraga panjat tebing? Ikuti terus perkembangan informasi menarik seputar olahraga ekstrim lainnya bersama VELO! Kantong nikotin paling praktis yang ditujukan untuk kamu yang sudah 18 tahun ke atas dan pengguna produk yang mengandung nikotin, bukan perempuan hamil atau menyusui.

Berbagai varian rasanya bisa kamu pilih sesuai selera. Selain itu, VELO bisa dinikmati dengan nyaman kapan saja dan dimana saja tanpa khawatir mengganggu orang lain, untuk menemani keseruan petualanganmu!

Hengky
For the last few years, Hengky living as a digital nomad and currently settled in Denpasar. As a writer, he is interested in a certain topic such as pseudoscience, culture, art, and lifestyle.

Related Articles

Leave a Reply