Mengenal Museum Bahari Yang Terkenal di Indonesia

Pernah mendengar tentang museum bahari? Museum ini menyimpan peninggalan yang memiliki hubungan dengan kenelayanan dan kebaharian rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Museum bahari terletak di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa, tepatnya di seberangnya. Bahkan tempat bersejarah ini merupakan salah satu dari 8 museum yang diawasi oleh Dinas Kebudayaan Permuseuman di Provinsi DKI Jakarta. 

Pada tahun 2017 hingga 2019, museum ini sempat menjadi tempat foto favorit kawula anak muda dan sering muncul di sosial media. Tapi, tahukah kamu jika museum ini sudah berusia lebih dari 300 tahun lamanya? Pantas saja, banyak sejarah dan masa lalu kelam yang sudah menjadi saksi hidup bangsa Indonesia yang terekam di dalam bangunan tua ini. 

Sejarah Museum Bahari 

Awal mula pembangunannya, bangunan ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah. Tentu kamu tau bukan, alasan Indonesia dijajah karena keanekaragaman rempah yang melimpah. 

Pembangunannya pun dilakukan secara bertahap pada zaman kepemimpinan VOC, yaitu pada tahun 1718 hingga 1774. Tidak heran jika bangunan ini punya ciri arsitektur khas art deco. 

Setelah tahap pertama, pada tahun 1942 hingga 1945, bangunan ini berpindah fungsi menjadi gudang logistik oleh Jepang. Baru setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1945, bangunan ini diambil alih menjadi milik PLN dan PT (Pos Telkom Telegram). 

Bangunan ini ditetapkan menjadi bangunan bersejarah oleh Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1972, barulah resmi menjadi Museum Bahari di tahun 1977. 

Koleksi Peninggalan Bersejarah 

1. Meriam VOC Museum Bahari

Pada bangunan Bahari memiliki tiga bagian gedung dengan fungsi berbeda. Jika kamu ingin berkunjung kesana, kamu harus tahu bagian gedung nya, karena memiliki tema koleksi yang berbeda. 

Misalnya saja, pada bangunan Gedung A yang memamerkan perkembangan pelayaran dari waktu ke waktu nusantara dan terdapat pula koleksi kotemporer yang tema nya berubah setiap bulan. Di Gedung A, juga terdapat enam koleksi meriam di zaman VOC yang terjaga originalitasnya sebagai saksi sejarah. 

Meriam VOC ini berbentuk tabung yang dapat dinyalakan hanya dengan menggunakan bubuk mesiu. Keenam meriam ini menjadi yang tertua pada zaman VOC. 

Sedangkan pada lantai dua di Gedung A, kamu akan menemukan perpustakaan dan diorama sejarah tentang Sunda Kelapa. 

Pindah ke gedung kedua, yaitu Gedung B kalian akan menemukan ruangan luas dengan auditorium. Di gedung ini menjual souvenir miniatur kapal yang bisa kamu jadikan oleh-oleh sebelum pulang. Selain itu, ada juga mini café untuk melepas dahaga setelah seharian mengelilingi museum bersejarah ini. 

2. Jukung Barito Museum Bahari

Di gedung terakhir atau Gedung C terdapat 19 perahu asli di ruangan besar yang ternyata dibawa khusus dari seluruh nusantara. Kamu juga dapat melihat Jukung Barito dan aneka biota laut yang sudah diawetkan untuk dipamerkan di museum ini. 

Jika kamu belum tahu, Jukung Barito adalah kumpulan koleksi maritim yang didatangkan langsung dari Kalimantan Selatan. Dari dulu hingga sekarang, Jukung masih digunakan sebagai sarana transportasi pedagang di Pasar Apung, di Kalimantan Selatan loh. 

3. Perahu Pinisi 

Tidak hanya Jukung saja, ada juga koleksi rangka dari perahu Pinisi. Keunikan dari perahu ini adalah proses pembuatannya. Dulu, ketika membuat perahu ini, orang akan membuat kerangkanya terlebih dahulu. 

Cara ini sudah menjadi identitas masyarakat Indonesia dalam membuat perahu. Baru setelah rangkanya jadi, dibuatlah badan perahu. Konon, ketika masyarakat membuat badannya, membuat jalannya lebih cepat karena bagian depan perahu nya yang lancip. Jika dibandingkan dengan kapal di Eropa yang bentuknya cembung, perahu di Indonesia memiliki bentuk seperti tempurung kelapa, sehingga tidak mudah tenggelam. Karena itulah, proses pembuatannya sangat unik dan terkenal. 

Selain itu, yang membuat proses pembuatan perahu semakin unik karena cara menyambung nya menggunakan kayu jati. Pinisi memang dibuat dengan menyambungkan pasak kayu. Pemilihan pasak kayu dipakai karena ketika terkena air, akan padat dan apabila memakai kayu akan cepat berkarat. 

4. Koleksi Berbagai Macam Rempah Nusantara 

Kamu akan menemukan koleksi rempah-rempah yang berjumlah 35 jenis. Sedangkan total keseluruhan rempah di Indonesia mencapai 600 jenis. Koleksi yang ditampilkan di museum ini dapat bertahan hingga 10 tahun lamanya. 

Setelah 10 tahun, rempah-rempah nya akan rontok sendiri tanpa diawetkan. Adanya koleksi rempah menjadi bukti bahwa Indonesia dijajah oleh Belanda karena mereka ingin menghangatkan badan, sementara di Indonesia menggunakannya untuk memasak. 

Menurut sejarah, rempah di Belanda tergolong mahal, maka dari itu mereka rela bepergian jauh untuk datang ke Indonesia. Orang Belanda tidak hanya menggunakan rempah untuk membuat badan hangat, tetapi juga untuk pengobatan dan kosmetik. 

Cara Menuju ke Museum 

Kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum. Jika kamu memilih menggunakan kendaraan pribadi, kamu bisa mengambil jalur di Jalan Tol Pelabuhan, kemudian ambil keluar di Sunda Kelapa dan menyusuri Jalan Gedong Panjang kemudian putar balik. 

Saat sudah melihat Menara Syahbandar, itu artinya kalian sudah sampai di tujuan. Tetapi, jika menggunakan angkutan umum seperti TransJakarta, kalian harus turun di Halte Stasiun Kota dan melanjutkan perjalanan dengan Kopami Nomor 2 lalu turun di Menara Syahbandar. 

Museum ini beroperasi dari hari Selasa sampai Minggu dari jam 08.00 hingga 16.00, sedangkan libur di hari Senin. Hanya dengan membayar tiket masuk Rp. 2.000 untuk anak-anak, Rp. 3.000 jika kamu mahasiswa dan Rp.5.000 untuk orang dewasa. 

Frista Kurniasari
Talented professional good multitasking, organizational and verbal and written communication skills. Expertise includes writing content on topics such as Lifestyle, Humanity, Education and Travel.

Related Articles

Leave a Reply