Hukum Bunga Bank, Apakah Sungguh Diharamkan dalam Islam?

Hukum bunga bank hingga kini masih menjadi perdebatan bagi sebagian masyarakat. Ada beberapa pendapat yang mengharamkan ada pula yang membolehkan, namun dengan catatan. Bagi masyarakat awam, hal ini tentu cukup membingungkan, terutama bagi masyarakat muslim. Pasalnya, saat ini sebagian masyarakat pasti memiliki simpanan maupun hutang di sebuah bank. Daripada penasaran, yuk simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Keterkaitan Riba dengan Bunga Bank

Hukum bunga bank
source: tirachardz on freepik.com

Dalam pandangan Islam tentang hukum bunga bank memang sangat berkaitan erat dengan riba. Secara bahasa, riba memiliki makna ziyadah atau tambahan. Secara linguistik, riba juga memiliki makna tumbuh dan membesar. Sementara menurut istilah secara teknis, riba dapat diartikan sebagai pengambilan tambahan dari modal atau harta pokok dengan cara yang batil.

Ada sejumlah pendapat dalam menjabarkan apa itu riba. Namun, secara umum ada sebuah benang merah yang mempertegas jika riba merupakan pengambilan kelebihan atau tambahan. Hal tersebut tak cuka pada transaksi jual-beli saja tapi juga aktivitas pinjam-meminjam yang dilakukan secara batil (buruk) atau tidak sejalan dengan prinsip-prinsip muamalat yang ada dalam Islam.

Dalam bunga bank, sistemnya mirip dengan riba, yakni adanya nilai tambah baik pada pinjaman maupun tabungan. Ketika seorang nasabah menabung uangnya pada bank, ia akan mendapatkan tambahan uang sesuai nilai tabungannya. Sementara ketika meminjam uang, nasabah tersebut harus mengembalikan pinjaman pokok beserta tambahannya. Disitulah, yang dianggap sebagai riba.

Hukum bunga bank dalam Islam

Secara prinsip, para ulama bersepakat bahwa riba hukumnya haram, sesuai firman Allah SWT yang tertuang dalam QS. Al-Baqarah (2): 275, yang memiliki makna, ”Dan Allah telah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba.”

Namun, para ulama memiliki pendapat yang berbeda tentang hukum bunga bank, apakah termasuk riba dan diharamkan ataukah bukan? Munculnya berbagai perbedaan pendapat, karena di zaman Nabi Muhammad Saw belum ada sistem perbankan. Bahkan, pembahasan mengenai hukum bunga bank sendiri baru ditemukan dalam beberapa literatur fiqih kontemporer.

Pendapat Ahli tentang Hukum Bunga Bank

Pendapat dari Syekh Wahbah az-Zuhaili

Seorang ahli fiqih yang berasal dari Syria, Syekh Wahbah Az-Zuhaili berpendapat jika bunga bank juga termasuk ke dalam riba dan haram menurut pandangan Islam. Beliau mengkategorikan bunga bank ke dalam riba an-nasii`ah. Sebab menurut pendapat Syekh Az-Zuhaili, bunga bank tersebut mengandung unsur tambahan uang tanpa imbalan yang didapat dari pihak penerima, dengan tenggang waktu.

Pendapat Majma’ al-Buhuts a-Islamiyyah

Pendapat yang tak jauh berbeda juga dikemukakan oleh Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah, Kairo. Sejumlah ulama yang bergabung di lembaga ini berpendapat bahwa meski sistem perekonomian sebuah negara tak bisa maju tanpa adanya campur tangan bank. 

Akan tetapi, karena sifatnya bunga bank merupakan kelebihan atau tambahan dari pokok pinjaman yang tak ada imbalan bagi orang yang memiliki piutang dan kerap menjurus pada sifat melipat gandakan (adh’aafan mudhaa’afatan). Namun jika utang atau pinjaman yang tidak dibayarkan tepat waktu, kemudian lembaga tersebut menetapkan jika hukum bunga bank termasuk ke dalam riba yang diharamkan oleh syara’.

Pendapat Muhammad Rasyid Ridha

Namun, sebagian ulama lainnya mengaitkan haramnya riba dengan unsur azh-zhulm (penindasan atau penganiayaan). Maknanya, jika pinjaman yang diberikan tak menyebabkan seseorang merasa tertindas atau teraniaya. Maka hal tersebut tidak dikategorikan ke dalam riba yang diharamkan, meski pelaksanaannya dengan menggunakan sistem bunga. 

Beberapa ulama yang berpendapat demikian di antaranya ialah seorang mufasir yang berasal dari Mesir bernama Muhammad Rasyid Ridha. Beliau menyebutkan bahwa seseorang tidak dianggap melakukan riba ketika memberikan sejumlah harta (uang) kepada orang lain yang diinvestasikan sembari menetapkan jumlah tertentu baginya dari apa yang dihasilkan oleh usaha tersebut. Hal ini karena transaksi yang demikian memberikan keuntungan pada kedua belah pihak.

Pendapat Muhammad Quraish Shihab 

Seorang mufasir dari Indonesia, yakni Muhammad Quraish Shihab pun juga memiliki beberapa pendapat tentang hukum bunga bank. Setelah melakukan analisis pada ayat-ayat yang berhubungan dengan makna riba, asbab an-nuzul, serta merangkum berbagai pendapat dari banyak mufasir, beliau menyimpulkan jika sebab (’illat) yang menyebabkan riba haram adalah sifat aniaya (azh-zhulm). 

Sebagaimana yang telah dijabarkan pada akhir ayat ke 279 dalam Surah Al-Baqarah. Karena itu, yang diharamkan pada riba adalah tambahan yang dipungut bersamaan dengan jumlah utang yang memiliki unsur aniaya dan penindasan, dan bukan sekedar penambahan atau kelebihan jumlah utang saja.

Demikian tadi beberapa pendapat tentang hukum bunga bank yang memiliki penafsiran berbeda. Dimana suku bunga bank dianggap haram jika di dalamnya terdapat unsur aniaya dan atau penindasan. Namun, kebanyakan sistem perbankan saat ini apalagi soal pinjaman masih menggunakan sistem konvensional. Maknanya belum benar-benar melakukan penerapan hukum Islam secara syariat sepenuhnya. Sehingga, masih dikhawatirkan adanya bunga atau riba yang diharamkan.

Related Articles

Leave a Reply