Memahami Ad Hominem dari 3 Contoh Musim Ad Hominem di Indonesia

Ad Hominem kerap menghiasi dunia politik maupun hiburan di Indonesia

Kamu mungkin sudah sering melakukan debat argumentasi, baik di media sosial maupun dunia nyata, baik dengan temanmu maupun orang tidak dikenal yang berbeda pendapat denganmu. Namun, sadar atau tidak, kamu atau orang lain yang berdebat bersamamu mungkin pernah mengeluarkan argumen-argumen yang sifat menyerang karakter pribadi.

Argumentasi tersebut dapat dikategorikan sebagai kesalahan logika Ad Hominem. Secara singkat, Ad Hominem merupakan sebuah bentuk kesalahan logika yang terjadi ketika seseorang memberikan argumen yang tidak relevan dengan topik yang terjadi atau yang tengah dibicarakan, melainkan hanya mengeluarkan premis-premis yang menyerang karakter pribadi lawan bicaranya demi memenangkan argumen.

Jangankan di level pribadi, di level yang lebih besar pun kita dapat menemukan kesalahan logika Ad Hominem dengan mudah, misalnya di level pemerintahan atau ranah lain di media.

Untuk lebih mudah memahami Ad Hominem, yuk, kita lihat 3 contoh musim Ad Hominem yang pernah terjadi di Indonesia.

Musim Ad Hominem pada Susi Pudjiastuti

Saat Susi Pudjiastuti terpilih menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, berbagai media membicarakannya, karena dari segi pendidikan, Susi Pudjiastuti masih jauh di bawah jajaran Menteri lainnya. Namun jika dilihat dari prestasi serta bisnis yang dipimpin, Susi tidak kalah dengan yang lain.

Alih-alih membicarakan tentang berbagai pencapaian yang mampu membawa Susi Pudjiastuti menjadi menteri, banyak orang, terutama warganet yang malah mengomentari soal penampilan dan kebiasaannya, seperti kebiasaan merokok atau kebiasaan duduk yang secara stereotip dianggap kurang pantas dilakukan oleh pejabat pemerintahan, terutama perempuan.

“Menteri kok ngerokok di depan umum sih?”

“Menteri kok duduknya begitu? Tidak santun sekali.”

Dua komentar di atas mungkin sudah sering kamu temukan. Keduanya dapat dikategorikan sebagai Ad hominem.

 

Musim Ad Hominem pada kampanye pilpres 2019

Kamu mungkin masih ingat betapa ramainya Indonesia membicarakan tentang kampanye pilpres pada 2019, terutama media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, bahkan YouTube. Waktu itu terdapat 2 kandidat presiden, yakni Jokowi dan Prabowo.

Seperti pemilihan presiden pada umumnya, pilpres 2019 juga diwarnai dengan debat kandidat. Berbagai media televisi meliput debat tersebut dan mengunggahnya ke berbagai media sosial, salah satunya YouTube.

Pada cuplikan Jokowi berbicara dalam forum debat, tidak jarang di kolom komentar kita melihat beberapa warganet menuliskan kalimat seperti, “Ini calon presiden tapi gak formal banget kalau pakai baju.” Padahal yang dibicarakan Jokowi berkaitan dengan banjir di Jakarta, misalnya.

Hal yang sama terjadi pada Prabowo. Komentar Ad hominem kerap dilontarkan untuknya, seperti “Dasar presiden jomblo!” dan sebagainya.

Argumen-argumen yang diberikan warganet tersebut merupakan sebuah kesalahan logika.

Musim Ad hominem saat Barbie Kumalasari tengah naik daun

Tidak hanya di jajaran pemerintah, musim Ad hominem juga terjadi di jajaran selebriti Indonesia. Pada 2019 hingga awal tahun 2020, jagat media televisi dan media sosial ramai dengan pembicaraan mengenai seorang penyanyi bernama Barbie Kumalasari.

Alih-alih membicarakan tentang kasus cerai-nikah artis tersebut, beberapa warganet malah sibuk membicarakan penampilan fisiknya.

“Udah tua aja masih cerai-nikah-cerai.”

“Sok cakep banget sih, dasar boneka plastik!”

Dua komentar di atas mungkin sudah tidak asing lagi di telingamu. Nah, keduanya juga merupakan contoh kesalahan logika Ad hominem, lho! Bagaimana tidak, yang seharusnya dibicarakan adalah perceraian atau pernikahan Barbie Kumalasari, tapi kok warganet malah melontarkan argumen yang berkaitan dengan penampilan fisik yaaaa..

Musim Ad Hominem seperti yang dijelaskan di atas seringkali ditampilkan di layar televisi. Nah, sembari menonton TV, tidak ada salahnya kamu mencoba VELO, cara baru dalam merasakan sensasi nikotin, tanpa asap dan bau, bagi kamu pengguna produk nikotin yang sudah berusia 18 tahun atau lebih, bukan perempuan hamil atau menyusui.

Related Articles

Leave a Reply