Kersik Luway, Cagar Alam di Kalimantan Timur untuk Melindungi Tanaman

Provinsi Kalimantan Timur menyimpan banyak keindahan alam yang tetap terjaga. Salah satunya Cagar Alam Kersik Luway di Kabupaten Kutai Barat (Kubar). 

Kawasan yang juga menjadi cagar alam di Kalimantan Timur untuk melindungi tanaman ini terkenal dengan spesies anggrek-nya yang sangat beragam.

Tempat ini berjarak 15 km dari Kota Sendawar dan sudah ditetapkan sebagai Cagar Alam oleh pemerintah sejak beberapa dekade silam.

Cagar Alam Kersik Luway

Cagar Alam di Kalimantan Timur untuk Melindungi Tanaman
Image source: Trepelin.com

Cagar Alam Kersik Luway terletak di Kalimantan Utara, Kabupaten Kutai Barat tepatnya di Tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Melak, Sekolaq Darat dan Damai. 

Kawasan ini sering dimanfaatkan dalam kegiatan penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kegiatan lainnya yang bermanfaat.

Cagar Alam Kersik Luway merupakan kawasan hutan kerangas yang tanahnya berpasir yang berwarna putih, beberapa tumbuhan yang ada di tempat ini antara lain tanaman pepohonan medang, way, karet, pelawan, pelaga, pasak bumi/longjack, dan yang paling khas adalah flora anggrek hitam yang sangat dilindungi dan sudah terancam punah.

Selain itu, tempat ini juga didiami oleh beberapa spesies hewan seperti babi hutan, warik monyet, rusa, kijang, biawak, rangkong enggang, punai, parkit, hingga berbagai spesies burung.

Kersik Luwai dalam bahasa Dayak berarti ‘Pasir Sunyi’. Areal ini ditetapkan sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 792/Kpts/Um/10/1982. 

Luas kawasan ini sebenarnya kurang lebih 5000 hektar, akan tetapi hutan tempat habitat utama Anggrek hanya sekitar 17.5 hektar. Sebelum kebakaran hebat tahun 1982, di Kersik Luwai teridentifikasi 72 jenis Anggrek. Namun setelah kebakaran, yang tersisa sekitar 57 jenis anggrek.

Akses Menuju Kersik Luway

Cagar Alam di Kalimantan Timur untuk Melindungi Tanaman
Image source: detikTravel

Cagar Alam Padang Luway berada di Kabupaten Kutai Barat. Secara administrasi terletak di tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Sekolaq Darat (Desa Sekolaq Darat), Kecamatan Melak (Desa Empas), dan Kecamatan Damai (Desa Keay). 

Berjarak sekitar 350 kilometer dari Ibu Kota Kaltim, Samarinda, dengan waktu tempuh enam sampai 8 jam. Alternatif lain menuju kawasan ini adalah jalur sungai dengan jarak tempuh sekitar 17 jam. Atau melalui jalur udara  dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dari Bandara Temindung Samarinda. 

Aneka Spesies Anggrek Langka

Image source: Intisari Online

Di Cagar Alam Padang Luway ditemukan beberapa jenis anggrek. Di antaranya Anggrek Penunjuk Langit (Cleisostoma discolor), Anggrek Anyaman (Dendrobium aloifolium), Anggrek Merpati Daun Berbulu (Dendrobium crumenatum), dan Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata). 

Selain itu ada juga Anggrek Pandurata Bulat (Coelogyne Foerstermanii),  Anggrek Kumis Kucing (Bulbophyllum vaginatum), Anggrek Bambu (Dendrobium acuminatissimum), dan Anggrek Tebu (Grammatophyllum speciosum).

Keberadaan anggrek-anggrek langka tersebut menjadi magnet kawasan konservasi ini. Sekaligus menjadikannya sasaran tangan-tangan jahil yang berusaha mengambil anggrek, terutama anggrek hitam. Hal inilah yang membuat cagar alam tersebut mesti dijaga keberadaannya.

Selain anggrek, terdapat tiga jenis kantong semar yang di lindungi pula di sini, yaitu Nepenthes reinwardtiana, Nepenthes gracilis, dan Nepenthes ampularia. Ketiganya sudah masuk dalam kategori Least Concern (LC) oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

Simak juga update informasi yang tak kalah menarik lainnya bersama VELO! Kantong nikotin bebas tembakau pertama di Indonesia yang bisa kamu jadikan alternatif rokok ketika situasi sedang tidak memungkinkan.

Tak masalah kapanpun dan dimanapun kamu berada, kamu tetap bisa menikmati sensasi nikotin tanpa harus mengganggu kenyamanan orang di sekitar karena VELO sepenuhnya bebas asap.

VELO dikhususkan untuk pengguna produk nikotin berusia 18 tahun ke atas, tidak sedang hamil atau menyusui dan bisa menyebabkan kecanduan.

Hengky
For the last few years, Hengky living as a digital nomad and currently settled in Denpasar. As a writer, he is interested in a certain topic such as pseudoscience, culture, art, and lifestyle.

Related Articles

Leave a Reply