Kenapa Sih Budaya Patriarki Masih Ada di Indonesia? Berikut Alasannya!

Istilah budaya patriarki pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Apalagi kita adalah masyarakat yang tinggal di negara yang menganut budaya patriarki yang kuat.

Sebenarnya apa sih budaya patriarki itu?

Budaya patriarki adalah kondisi sosial di mana kepimpinan serta otoritas dipegang dan didominasi oleh kaum perempuan.

Jika di rumah kamu melihat ayah sebagai kepala keluarga menjadi orang yang selalu mengambil keputusan, atau di jenjang pemerintahan desa, misal, kamu melihat bapak-bapak desa melakukan rapat untuk membahas masalah di desa, itu adalah beberapa contoh budaya patriarki.

Nah, ternyata budaya patriarki ini juga mengundang pro dan kontra di masyarakat, lho! Pasalnya, budaya patriarki dianggap menghambat terwujudnya kesetaraan gender di negara kita. Sebenarnya pro dan kontra ini tidak hanya terjadi di Indonesia, di berbagai negara di belahan dunia pun hal ini kerap menjadi isu, termasuk juga di banyak negara maju.

Banyak orang berpikir, di zaman yang sudah maju seperti sekarang, di mana akses terhadap informasi sangat mudah didapatkan, mengapa masih budaya patriarki masih terus berjalan? Padahal banyak juga orang yang sadar bahwa kesetaraan gender akan membuat sebuah negara menjadi lebih cepat maju.

So, daripada bertanya-tanya, simak artikel berikut tentang beberapa alasan mengapa budaya patriarki masih ada di negara kita!

Budaya patriarki sudah ada sejak lama

Salah satu alasan utama mengapa budaya patriarki masih ada di Indonesia adalah karena budaya ini memang sudah tertanam kuat pada masyarakat kita sejak dulu, bahkan sebelum masyarakat mengenal tulisan. 

Jika ditelusuri lebih lanjut, masyarakat pada zaman berburu pun sudah menegakkan budaya patriarki, disadari atau tidak. Di masa itu, kaum perempuan tidak ikut berburu. Mereka tinggal di rumah dan menjaga anggota keluarga lain, sementara laki-laki yang sudah dewasalah yang pergi mencari hewan buruan. 

Setelah kembali dari tempat berburu, kaum perempuan memasak hasil buruan. Mereka juga memetik buah-buahan di sekitar tempat hunian mereka sebagai makanan tambahan.

Nah, dari sini saja sudah jelas terlihat alasan mengapa budaya patriarki masih sangat kental di Indonesia.

Budaya patriarki diwariskan secara turun temurun

Karena sudah ada sejak zaman nenek moyang, banyak keluarga yang memutuskan untuk mewariskan budaya patriarki kepada keturunan mereka.

Meskipun saat ini sudah banyak pertentangan yang berkaitan dengan budaya patriarki, terutama yang berkaitan dengan pendidikan, banyak keluarga yang menolak hal tersebut karena menganggap budaya patriarki adalah budaya yang harus dilestarikan.

Pandangan media terhadap kaum perempuan

Coba perhatikan iklan TV, billboard, atau iklan apapun! Di media-media tersebut, perempuan seringkali digambarkan sebagai orang yang hanya peduli terhadap penampilan, sosok yang bertugas mengurus segala keperluan rumah tangga, termasuk mengurus anak dan suami, bahkan sosok yang tinggal di rumah saja, tidak bekerja luar rumah.

Apakah kita sadar bahwa berbagai tontonan demikian membuat budaya patriarki di Indonesia semakin tertanam kuat di masyarakat? Sementara kita adalah masyarakat modern yang memiliki banyak akses informasi, media pemberi informasi pun ternyata masih cenderung patriarkis.

Berbagai stereotip di kehidupan sehari-hari

Cowok ga boleh nangis!

Kamu cowo, tapi gitu aja kok cemen!”

Pernah mendengar kalimat di atas? Secara tidak langsung, kedua kalimat tersebut pun semakin menanamkan patriarki dalam kebudayaan kita, di mana laki-laki diminta menjadi sosok yang kuat karena merekalah yang pantas menjadi pemimpin.

Hal ini tentu sejalan dengan kalimat “Perempuan tidak boleh bangun kesiangan“, karena perempuan dituntut menjadi sosok yang harus mengurus suami dan anak, serta mempersiapkan semua kebutuhan keluarga sebelum aktivitas sehari-hari dimulai.

Jadi itulah beberapa alasan kenapa budaya patriarki masih melekat dalam masyarakat Indonesia. Bagaimana di keluargamu? Apakah budaya patriarki masih sangat terasa?

Related Articles

Leave a Reply