Batik Nusantara, Warisan Budaya yang Mendunia

Beragam corak dan motif etnik dituangkan di atas kain menggunakan media canting dan bahan pewarna alami. Dari generasi ke generasi, kerajinan batik terus dikembangkan, hingga akhirnya diakui dunia sebagai salah satu warisan kemanusiaan yang patut dilestarikan.

Rekam jejak batik sebagai salah satu ciri identitas dan kebudayaan Indonesia bisa ditelusuri di setiap daerah di penjuru negeri. Setiap tempat yang berbeda memiliki ciri khas motif batiknya tersendiri, berikut makna filosofis dibalik pola-pola uniknya tersebut.

Sejarah Teknik Membatik di Nusantara

Source: Arief Santoso via Unsplash

Di antara situs-situs arkeologi peninggalan para leluhur, yang kebanyakan berupa candi dari masa kerajaan Hindu-Budha, berbagai relief bermotif batik masih terabadikan dengan baik. Berangkat dari temuan ini, sebagian dari kalangan ahli sejarah dan peneliti berpendapat bahwa batik sudah eksis sejak abad 8-10 M.

Seperti pada arca Ganesha yang ditemukan di daerah Borobudur, sebuah penelitian mengemukakan kain batik sudah digunakan pada masa itu. Penggunaan batik juga telah disinggung dalam prasasti Jawa Kuno tentang penetapan batas-batas tanah bebas pajak yang di dalamnya membahas urusan persembahan.

Mengenai teknik membatik di Nusantara, sampai sejauh ini masih belum ada argumen yang cukup kuat untuk menetapkan dari mana awal mulanya orang-orang mulai mengenal tradisi ini. 

Ada teori yang mengatakan bahwa teknik membatik di Nusantara berawal dari pengaruh budaya Tionghoa dan India. Namun, seorang peneliti dari Belanda mengungkapkan bahwa sebenarnya batik sudah dikenal oleh masyarakat Jawa jauh sebelum itu, dan teori ini nampaknya masuk akal mengingat keberadaan beberapa relief candi berpola batik. Tapi, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan asal-usulnya.

Di samping itu, sejarah mencatat perkembangan motif-motif batik memang berkaitan erat dengan proses akulturasi dengan kebudayaan luar. Putri Ong Tien dari Tiongkok, istri dari Sunan Gunung Jati di Cirebon, mengilhami terciptanya salah satu motif batik terpopuler.

Semasa hidupnya Putri Ong senang melukis di atas kain dikala senggang. Corak batik hasil kreasinya yang tempo hari diberi warna-warna ceria khas musim semi di Tiongkok banyak ditiru para dayang ketika mencanting batik. Kini, kita mengenalnya sebagai motif mega mendung. Dari Cirebon, Pekalongan, hingga Lasem, pengaruh Tionghoa sangat kental dalam perkembangan corak batik di Nusantara.

Akulturasi budaya yang terjadi pada masa-masa kerajaan Islam juga turut menyumbang keragaman motif batik, seperti batik besurek khas Bengkulu. Motif ini biasanya berupa aksara-aksara Arab gundul. Lalu ada perpaduan antara motif flora dan fauna yang menyiratkan hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta. Batik besurek diperkirakan sudah ada sejak awal abad ke-16 seiring masuknya pengaruh Islam.

Berbagai Jenis Motif Batik Populer

Source: Agto Nugroho via Unsplash

Istilah ‘batik’ berasal dari kosakata Bahasa Jawa, yakni; ‘amba’ yang berarti kain, dan ‘tik’ yang merujuk pada cara pembuatan motif pada kain menggunakan malam cair dengan cara dititik-titik. Setiap provinsi di Indonesia memiliki setidaknya satu atau dua motif khas yang berbeda dengan daerah lain.

Motif Mega Mendung

Source: grahabatik.com

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, motif mega mendung berasal dari daerah Cirebon. Ciri khasnya berupa motif awan berwarna biru, merah tua, ungu, dan hijau tua. Motif ini semula hanya memiliki unsur warna biru dengan aksen merah. Dua warna itu menyimbolkan maskulinitas dan nuansa dinamis, karena dalam proses pembuatannya terdapat campur tangan laki-laki.

Warna biru dan merah tua juga merepresentasikan karakter masyarakat pesisir yang lugas, terbuka, dan egaliter. Sementara motif awan berwarna biru tua merupakan simbol langit pembawa hujan yang mendatangkan kesuburan.

Motif Parang

Source: Wiki Media

Motif parang adalah salah satu motif paling tua di Indonesia yang berasal dari Jawa. Motif parang terdiri dari beberapa jenis berbeda seperti parang rusak, parang barong, parang slobog, parang klitik, dll. Secara umum, ciri khas motif parang berupa kelompok motif garis miring yang tersusun sejajar dengan sudut kemiringan 45%.

Motif ini mengandung makna petuah agar tidak pernah menyerah, ibarat ombak laut yang tidak pernah berhenti menggulung. Motif parang merupakan simbol suatu jalinan yang tak pernah putus, baik dalam upaya memperbaiki diri, memperjuangkan kesejahteraan, maupun pertalian keluarga.

Motif Kawung

Batik
Source: batik-tulis.com

Motif kawung memiliki motif menyerupai kolang kaling, buah yang berasal dari pohon aren atau disebut juga pohon kawung. Motif lonjong tersebut disusun empat sisi membentuk lingkaran. Motif kawung juga sering diidentikan dengan bentuk koin sepuluh sen kuno, karena bentuknya yang bulat dengan lubang di bagian tengah. Motif kawung berkembang di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Motif ini termasuk motif Motif yang paling banyak dipakai.

Motif Tujuh Rupa

Batik
Source: Bagus Sketsa

Motif tujuh rupa yang berasal dari Pekalongan cukup mudah dikenali dengan motifnya yang bernuansa floral dan fauna. Corak pada motif tersebut merupakan hasil perpaduan antara sentuhan lokal dan Tionghoa.

Wilayah Pekalongan dulunya merupakan area transit para pedagang dari berbagai negara. Interaksi kebudayaan yang berlangsung sekian lama antara penduduk pribumi dan para pendatang terabadikan melalui motif pekalongan.

Motif Priyangan

Batik
Source: Kerajinan Rajapolah

Motif priyangan memiliki motif floral yang agak berbeda dengan motif bernuansa tumbuhan lainnya. Corak pada motifnya disusun menyambung, rapi, dan simetris dari setiap sisi. Motif khas Tasik ini umumnya didominasi warna terang namun tidak mencolok. Motif priyangan tidak terbatas pada motif-motif tumbuhan saja, ada juga motif hewan dan beberapa jenis corak yang menggambarkan peristiwa tertentu.

Polemik Sengketa Batik

Batik
Source: Phinemo.com

Komunitas seniman batik yang berbasis di Inggris dan Irlandia, The Batik Guild, menjelaskan bahwa batik adalah kerajinan yang sudah eksis sejak ratusan hingga ribuan tahun. Teknik membatik yang pertama terlacak berasal dari di kawasan Asia Tengah, Timur Tengah, dan India sekitar 2000 tahun silam. Teknik membatik diyakini masuk ke Nusantara melalui rute karavan.

Pola motif antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya unik satu sama lain一berdasarkan ciri khas tradisi lokal masing-masing. Namun, jika mengacu pada terminologi ‘batik’, yang mana berasal dari kosakata Jawa dengan aneka motif khasnya, tentu saja batik yang dimaksud hanya bisa ditemukan rekam jejaknya dari kebudayaan Indonesia.

Sebagai contoh, Cina memiliki kerajinan serupa dalam membuat kain bermotifnya. Teknik membatik di Indonesia dan Cina pun nyaris sama, sama-sama menggunakan lilin dan canting. Namun, karena pada dasarnya tidak bersumber dari kebudayaan yang sama, apalagi terdapat perbedaan ciri khas dan makna, kain bermotif dari Cina tidak serta merta disebut batik juga.

Persoalan bisa terjadi jika terdapat dua negara atau lebih yang memiliki kemiripan budaya, seperti ketika batik sempat diklaim oleh malaysia. Polemik pun muncul akibat masalah ini. Indonesia berbagi garis historis dengan malaysia, namun bukan sebagai bangsa yang sama. Perbedaan ini memang membuat perebutan hak milik kebudayaan atau tradisi rawan terjadi.

Lebih jauh, tensi antara Indonesia dan Masalia bukan hanya sebatas masalah batik, dan bukan satu-satunya persoalan klaim budaya yang pernah terjadi. Perdebatan serupa juga pernah terjadi ketika malaysia mengklaim kesenian Reog Ponorogo yang berasal dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, sebagai milik mereka.

Pengakuan Dunia Internasional Terhadap Batik

Batik
Source: RiauMagz

Batik mulai dikenal oleh dunia sejak aktif diperkenalkan Presiden Soeharto pada era 80an. Beliau sering memberikan batik sebagai cinderamata bagi tamu-tamu negara yang berkunjung. Selain itu, Presiden Soeharto juga beberapa kali tampak mengenakan batik saat menghadiri konferensi PBB.

Batik kemudian didaftarkan di UNESCO untuk ditetapkan sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) oleh Menko Kesejahteraan Rakyat pada 4 September 2008. Pengajuan itu membuahkan hasil Pada 9 Januari 2009. Pendaftaran batik untuk Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO diakui secara resmi.

Status tersebut ditetapkan pada sidang keempat Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Nonbendawi yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi tanggal 2 Oktober 2009. 

Sejak saat itu, melalui Kepres No.33 Tahun 2009, tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.

Demikianlah sejarah batik Nusantara sebagai salah satu warisan budaya yang mendunia. Ikuti terus perkembangan informasi menarik lainnya bersama VELO, nicotine pouch pertama di Indonesia yang ditujukan untuk kamu yang sudah berusia 18 tahun ke atas dan pengguna produk yang mengandung nikotin, bukan perempuan hamil atau menyusui. Berbagai varian rasanya bisa kamu pilih sesuai selera. Selain itu, VELO bisa dinikmati dengan nyaman kapan saja dan di mana saja tanpa khawatir mengganggu orang lain.

Hengky
For the last few years, Hengky living as a digital nomad and currently settled in Denpasar. As a writer, he is interested in a certain topic such as pseudoscience, culture, art, and lifestyle.

Related Articles

Leave a Reply