Franchise Minuman VS Merintis Brand Sendiri, Mana yang Lebih Untung?

Franchise minuman membutuhkan modal yang lebih kecil dibanding merintis brand sendiri. Terlebih lagi, pelaku bisnis tidak perlu repot-repot memikirkan branding produk karena identitas mereka sudah familiar di kalangan masyarakat luas. Sehingga, operasional bisnis bisa langsung berjalan optimal dan menghasilkan keuntungan.

Tapi, merintis brand sendiri jauh lebih unggul dari segi kepemilikan ketimbang franchise. Usaha yang dibangun atas nama brand sendiri sama artinya dengan menguasai semua hak istimewa untuk membuat kebijakan sesuai standar pribadi. Plus, tanpa harus sharing profit. Suatu keuntungan yang tidak bisa diperoleh para pegiat franchise.

Diantara dua pilihan itu sering kali membuat para pengusaha bingung untuk memilih model bisnis mereka, terutama jika mendambakan kriteria minim resiko namun tetap menguntungkan dari segala sisi.

Kira-kira, mana yang lebih menguntungkan di antara bisnis franchise dan merintis usaha sendiri? Mari kita simak perbandingannya!

Bisnis Franchise Minuman

Source: Jonathan Borba via Unsplash

Berdasarkan himpunan data Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), bisnis waralaba menunjukkan peningkatan drastis sepanjang tahun 2019. Sekitar 2000 brand waralaba terdaftar di Indonesia, dengan 300 diantaranya merupakan franchise internasional. Hal ini tak luput dari kemudahan yang ditawarkan para franchisor untuk melakukan kerja sama bisnis. 

Diantara berbagai jenis usaha franchise yang terpantau, ada tiga kategori yang paling populer di hampir setiap kalangan, yaitu kuliner, pendidikan, dan ritel—khususnya yang berbasis online. Setiap harinya semakin banyak orang yang memilih memesan makanan, minuman, dan produk lainnya via online.

Franchise minuman pun kian marak dilirik para pelaku usaha. Sebagian pemain lama yang sempat melambung pada tahun-tahun sebelumnya diprediksi akan tetap berjaya di tahun-tahun mendatang, meskipun ada sebagian yang mengalami kerugian akibat terdampak pandemi.

Franchise minuman bisa menjadi pilihan terbaik jika modal yang tersedia cukup terbatas, terlebih lagi jika tidak ingin repot-repot memulai bisnis dari nol. Seseorang tinggal membayarkan biaya sewa sesuai dengan opsi yang disediakan pihak franchisor, sekaligus sebagai modal untuk mendapatkan peralatan operasional, bahan baku, hingga pelatihan.

Bisnis franchise ibarat memancing di kolam ikan. Sebab, bisnis yang dijalankan bisa dipastikan akan langsung mendapat konsumen. Reputasi brand sebuah bisnis waralaba sudah jelas dimata pelanggan.

Sistem franchise menawarkan suatu kemudahan berbisnis tanpa harus dibuat pusing dengan urusan manajemen. Kamu tinggal fokus menjalani operasional dan meningkatkan angka penjualan. Namun, selayaknya sistem kontrak pada umumnya, bisnis ini mewajibkan kita mengeluarkan modal perpanjangan dalam setiap periodenya, belum lagi jika terdapat perjanjian bagi hasil.

Selain itu, bisnis franchise biasanya memiliki keterbatasan untuk berinovasi. Hal ini berkaitan dengan pakem bisnis yang sudah ditetapkan sejak awal oleh pemilik brand.

Merintis Usaha Mandiri

Source: David Carpani via Unsplash

Jika kamu memiliki ide bisnis yang berpotensi tumbuh besar, sebaiknya jangan sia-siakan ide tersebut. Ide yang bagus bisa tumbuh optimal jika diwadahi dengan konsep yang tepat serta perhitungan yang matang.

Produk-produk viral seperti boba dan minuman berbasis kopi atau teh, berangkat dari ide dan konsep yang cemerlang. Itulah yang dilakoni berbagai brand franchise minuman kenamaan sebelum jejaring bisnisnya melebar.

Menjalankan usaha selaku mitra franchise tidak bisa beranjak terlalu jauh, apalagi untuk melakukan ekspansi. Namun, jika merintis usaha secara mandiri, bukan cuma perluasan bisnis yang mungkin dilakukan, tapi juga bermain sebagai franchisor.

Dengan membuka usaha sendiri, kita memegang kendali penuh atas usaha yang dijalani. Kita bisa bebas berinovasi dan menerapkan ide sesuka hati. Tidak ada aturan yang menghalangi untuk membuka cabang baru atau merambah ke sektor baru. Satu-satunya yang berpotensi menjadi pembatas hanyalah regulasi pemerintah. Faktor apapun dapat digunakan untuk melipatgandakan keuntungan.

Tidak ada ikatan yang berpengaruh signifikan untuk keberlangsungan usaha mandiri. Lain halnya dengan bisnis waralaba yang sangat bergantung pada franchisor-nya. Oleh karenanya, usaha mandiri memiliki potensi konflik kerjasama yang lebih rendah dibanding bisnis franchise.

Kendati begitu, butuh proses yang cukup panjang untuk mengembangkan ide menjadi bisnis yang sukses. Memulai usaha dari nol memiliki tingkat resiko yang jauh lebih tinggi dibanding waralaba. Terlebih, tidak ada pihak yang bisa dipastikan siap bertanggung jawab untuk menolong bisnis jika terjadi masalah.

Khususnya jika belum punya cukup pengalaman, seseorang seringkali mengalami tantangan berat untuk mengatasi masalah-masalah umum yang kerap terjadi. Penting sekali untuk memilih kandidat yang tepat untuk membentuk tim perusahaan. 

Kesimpulan

Sebelum memutuskan model bisnis yang akan kamu tempuh, pertimbangkan baik-baik 5 hal ini; kesiapan diri & pengetahuan, potensi produk minuman, tren pasar, kondisi persaingan, dan modal. Sejauh mana kesiapan diri dan pengetahuan yang kita punya saat ini? Apakah sudah cukup untuk menghadapi tantangan secara mandiri atau masih butuh arahan?

Entah itu franchise minuman atau merintis usaha sendiri, pastikan produk yang kita tawarkan disukai calon pelanggan dan memiliki potensi untuk bertahan. Jika produk minuman tidak cocok dengan tren pasar saat ini—dan juga di masa mendatang, sebaiknya lakukan evaluasi ulang. Bisnis kuliner termasuk rawan gagal, kualitas saja tidak cukup, lebih-lebih jika tidak bisa menempatkan diri dalam persaingan.

Perihal modal, apakah kita sudah yakin 100% berdasarkan kalkulasi & perencanaan, bahwa bisnis tersebut akan berhasil? Jika ya, modal tidak semestinya menjadi penghalang. Di zaman sekarang pelaku usaha bisa mendapatkan bantuan modal dengan mudah. Apalagi pemerintah sedang gencar-gencarnya mendorong angkatan kerja baru untuk terjun ke dunia wirausaha.

Namun, jika dirasa belum punya visi yang jelas, langkah yang paling bijak adalah memulai dengan sumber daya yang tersedia, tidak perlu memaksakan diri untuk mengambil resiko. Melalui pertimbangan-pertimbangan tersebut kita bisa melihat pilihan mana yang lebih menguntungkan.

Jika sudah menentukan pilihan, selanjutnya kamu tinggal fokus merancang strategi penjualan yang paling cocok dengan model bisnis. Sebab, baik franchise minuman ataupun usaha mandiri, masing-masing memiliki pola strategi yang berbeda.

Mau tahu rahasianya? Simak tipsnya dalam update informasi selanjutnya bersama VELO, nicotine pouch pertama di Indonesia buat kamu yang sudah berusia 18 tahun ke atas dan pengguna produk yang mengandung nikotin, bukan perempuan hamil atau menyusui, untuk menikmati sensasi nikotin dengan cara beda! Tanpa asap, bebas tembakau, dan sangat praktis! Tersedia dalam aneka rasa unik seperti Berry Frost, Exotic Clove, Polar Mint, dan Tropic Mix. Cukup selipkan di antara bibir dan gusi atas, sensasinya bakal kerasa hingga setengah jam.

Hengky
Crafting stories about social issues, pop culture, & common knowledge.

Related Articles

Leave a Reply