Filosofi Kamen Bagi Masyarakat Bali

Kamen merupakan salah satu pakaian adat Bali yang selalu digunakan pada setiap acara adat. Pemerintah Bali ingin melestarikan kebudayaan Pulau Dewata ini, tidak hanya lokal tapi dapat dikenal oleh dunia dengan nilai estetika yang tinggi.

Sebenarnya, kain merupakan pengganti celana dan penutup bagian kaki. Kain kamen digunakan sampai setelapak kaki dengan tujuan agar tetap anggun, jika digunakan pada wanita. Suatu kebanggaan bagi pria dan wanita saat mengenakan kamen serta kelengkapan lainnya.

Penggunaan pakaian adat Bali memiliki filosofi tersendiri, yang harus dimengerti oleh siapapun yang mengenakannya. Selain filosofi, ternyata ada konsep khusus yang melatarbelakangi ini semua yaitu konsep dengan nama Tri Angga. Sebenarnya, apa saja konsep yang menjadi pegangan masyarakat Bali? Simak penjelasan menarik berikut ini:

Konsep Tri Angga Dalam Pakaian Adat Bali

Konsep ini terdiri dari Dewa Angga yaitu busana yang digunakan dari leher sampai kepala seperti udeng. Selanjutnya, Manusa Angga yaitu pakaian yang digunakan dari atas pusar sampai leher, seperti baju, kebaya dan saput. Terakhir, Butha Angga yang digunakan dari pusar ke bawah seperti kain atau kamen.

Konsep Tri Angga menjadi landasan berbusana bagi pria maupun wanita. Konsep ini diterapkan agar pakaian adat Bali sopan, mencerminkan kedamaian dan beretika. 

Filosofi Kamen Bagi Pria

Kamen dalam konsep Tri Angga termasuk Bhuta Angga. Sebuah landasan Tri Angga memiliki penjelasan dari penggunaan kain. Pria selalu menggunakan kamen atau kain dengan lipatan melingkar dari kiri ke kanan seperti melawan arah jarum jam. Hal ini dilakukan karena memang pemegang Dharma.

Tinggi kain yang digunakan harus berjarak sejengkal dari telapak kaki, karena setiap pria adalah penanggung jawab Dharma yang harus melangkah dengan panjang, tetapi walaupun seperti itu harus tetap sadar mengenai tempat yang diinjaknya adalah Dharma.

Jika dilihat secara tidak langsung, kamen hampir mirip dengan sarung yang berbentuk persegi. Kamen ini memang dapat digunakan pada pria dan wanita, manum aturan pemakaiannya sangat berbeda, yang tentu akan berpengaruh pada filosofi nya.

Filosofi Kamen Bagi Wanita

Kamen yang digunakan oleh wanita berbeda dengan pria. Bagi wanita, perbedaannya terletak pada lipatannya. Lipatan kamen harus melingkar dari kanan ke kiri atau mengikuti arah jarum jam sesuai dengan konsep Sakti. Biasanya, kamen pada wanita bercorak batik bunga dan warna yang cerah. Filosofi konsep Sakti bermakna “Putri berperan sebagai sakti yang memiliki tugas untuk menjaga supaya laki-laki tidak keluar dari ajaran Dharma”. 

Walaupun cara pemakaiannya berbeda, akan tetapi makna yang terkandung sangatlah dalam dan mencerminkan kehidupan antara pria dan wanita.

Peran Penting Kamen Pada Kehidupan

Setiap provinsi di Indonesia memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing untuk menonjolkan budaya dan adat istiadatnya. Sama hal nya dengan pakaian adat di Bali, sebagai pakaian tradisional yang terus dilestarikan. 

Jenis-jenis pakaian adat Bali memiliki filosofi atau makna yang penting dan berdasar pada kepatuhan terhadap Sang Hyang Widhi. Pakaian adat ini juga digunakan sebagai pembeda tingkat kasta. Walaupun memang, di mata sang kuasa, manusia memiliki derajat yang sama.

Selain sebagai wujud penghormatan kepada Tuhan, pakaian adat ini juga sebagai penghormatan terhadap tamu yang berkunjung ke Bali. Budaya yang melekat di Bali memang selalu membuat siapapun yang datang merasa terhormat dengan sambutan yang hangat dan berpakaian rapi, sopan, dan bagus.

Frista Kurniasari
Talented professional good multitasking, organizational and verbal and written communication skills. Expertise includes writing content on topics such as Lifestyle, Humanity, Education and Travel.

Related Articles

Leave a Reply