Feminisme di Indonesia, Bisakah Diterapkan?

Istilah feminisme awalnya memang hanya populer di negara-negara barat. Tapi seiring berjalannya waktu dan berkembangnya globalisasi, istilah feminisme juga sudah populer di Indonesia. Bahkan di Indonesia juga sudah banyak ditemukan aktivis feminisme.

Secara sederhana, feminisme diartikan sebagai sebuah ide, pemikiran, dan gerakan untuk melawan penindasan terhadap kaum perempuan perempuan. Orang-orang yang menganut paham feminisme disebut dengan feminis. 

Gerakan feminisme di Indonesia sendiei mendapat pengaruh dari berbagai cerita sejarah perjuangan bangsa, berbagai program pembangunan nasional, reformasi, globalisasi, hingga kehidupan beragama di masyarakat.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai feminis, yang kemudian memunculkan  kebencian terhadap kaum laki-laki.

Pandangan tersebut membuat image para feminis menjadi buruk. Mari kita lihat apakah feminisme di Indonesia sendiri bisa diterapkan melalui beberapa fakta di bawah ini!

Feminisme bertujuan untuk mewujudkan kesetaraan, bukan menjatuhkan satu pihak

Feminisme sebenarnya merupakan bentuk gerakan yang dibuat untuk memperjuangkan kesetaraan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Gerakan ini disusun oleh berbagai teori, seperti teori feminisme liberal, feminisme marxis, feminisme sosialis, feminis anarkis, feminisme radikal, dan sebagainya. 

Beberapa aliran feminisme seperti feminisme radikal dan feminisme anarkis memang cenderung ekstrim karena aliran feminisme ini menganggap kaum laki-lakilah yang menghancurkan hidup kaum perempuan. Padahal tujuan awal dari gerakan feminisme adalah mewujudkan kesetaraan gender, bukan menjatuhkankan kaum laki-laki.

RA Kartini sebagai tokoh feminisme di Indonesia

Siapa sih yang tidak tahu RA Kartini? Ia merupakan seorang perempuan yang lahir dari keluarga bangsawan dan berusaha keras membela hak-hak perempuan Indonesia di Indonesia zaman dahulu.

Karena perjuangan RA Kartini, saat ini sebagian besar perempuan Indonesia pun sudah bisa mengecap dunia pendidikan bahkan menjalin pendidikan tinggi demi karir yang gemilang.

Walaupun demikian, belum semua perempuan di Indonesia bisa bersekolah. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, yakni ekonomi dan kultural.

Perkembangan feminisme di Indonesia terbilang lambat

Jika kita membandingkan antara perkembangan gerakan feminisme di negara-negara barat dan feminisme di Indonesia, feminisme di negara memang dapat disebut bergerak lambat dan cukup tenang.

Di berbagai negara Eropa dan Amerika, kita banyak mendengar berita-berita tentang protes para feminis terhadap negara dan tatanan sosial, bahkan ada banyak peristiwa-peristiwa besar di sana yang dikaitkan dengan gerakan feminisme.

Sementara kaum penganut feminisme di Indonesia tampak lebih tenang, jauh dari protes, apalagi anarkisme. Hal ini dikarenakan karena budaya ketimuran yang sangat melekat di Indonesia, yakni budaya yang menjunjung tinggi adat dan sopan santun. Selain itu, lambat dan tenangnya pergerakan feminisme di Indonesia juga dipengaruhi karena adanya sistem agama.

Gerakan melawan feminisme di Indonesia

Seperti dijelaskan sebelumnya, meskipun paham feminisme sebenarnya dibangun untuk mewujudkan kesetaraan, yang merupakan sebuah hal yang positif, namun kenyataannya ada pihak-pihak yang menentang gerakan feminisme di Indonesia.

Pada Maret 2019, ada sebuah akun Instagram bernama @indonesiatanpafeminis membuat kampanye untuk melawan gerakan feminisme di Indonesia. Hal ini dilakukan karena menurut akun tersebut, paham feminisme sebenarnya kurang sesuai dengan budaya Indonesia. Dalam akun ini, berbagai opini dikaitkan dengan ajaran dalam agama Islam.

Nah, itu dia beberapa fakta tentang feminisme di Indonesia. Bagaimana menurutmu? Apakah feminisme di Indonesia bisa diterapkan? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Apakah kamu mengategorikan dirimu sebagai salah satu bagian dari feminisme di Indonesia?

Related Articles

Leave a Reply