Batik Kawung: Sejarah dan Makna Filosofis Dibalik Motif Uniknya

Julukan “Kota Batik” seakan menggaris bawahi secara eksplisit bahwa Yogyakarta memiliki sumbangsih terbesar terhadap kekayaan motif batik Indonesia. Mulai dari motif-motif original berusia ratusan tahun hingga aneka motif modern-kontemporer banyak terlahir di tangan-tangan kreatif masyarakat Yogya. Tak terkecuali batik kawung yang melegenda itu.

Motif ini konon terinspirasi dari buah kawung atau buah pohon aren yang berwujud oval, bundar, berwarna putih gading, yang lebih dikenal luas sebagai kolang-kaling. Dibalik ragam motifnya yang sangat presisi dan terkesan etnik, terkandung cerita yang menarik tentang asal-usul dan makna filosofisnya.

Sejarah Batik Kawung 

Source: Ian Alexander via Wikimedia Commons

Batik kawung termasuk salah satu motif batik tertua di Indonesia. Keberadaannya sering kali disinggung dalam sumber-sumber sejarah tertulis dan budaya lisan sejak zaman Kesultanan Mataram pada abad ke-16.

Secara umum, ada dua teori berbeda yang menjelaskan asal-usulnya; yang pertama mengatakan bahwa motif batik ini diciptakan oleh sultan Mataram keempat yang memerintah dari tahun 1613 hingga 1645, yaitu Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (Sultan Agung Mataram), setelah dirinya mendapat inspirasi dari pohon aren.

Sementara itu, teori kedua sering disinggung dalam sebuah folklor yang mengisahkan seorang pemuda berwibawa yang cukup disegani di lingkungannya. Dia terkenal sangat santun dan bijak.

Sampai suatu hari, desas-desus seputar pemuda ini sampai di lingkungan kerajaan. Pihak kerajaan mengutus telik sandi (mata-mata) untuk mengamati keseharian si pemuda, dan akhirnya ia dipanggil untuk menghadap raja. Sang ibu yang mendapat kabar bahwa anaknya dipanggil raja, lantas mempersiapkan pakaian terbaik untuk anaknya. Saat itulah motif kawung diciptakan.

Makna Filosofis Batik Kawung

Source: etnis.id

Menurut versi cerita rakyat tentang asal-usul batik kawung, motif ini mengandung makna harapan dari sang ibu agar anaknya tidak lupa asal-usulnya, bisa mengendalikan hawa nafsu dengan baik, dan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.

Seyogianya pohon aren yang memiliki manfaat luas dari segala sisi; mulai dari batang, daun, ijuk, nira, hingga buahnya, semuanya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup. Mutu ini sejalan dengan tafsiran tersebut.

Motif kawung juga mewakili simbol kekuasaan. Pola yang terdiri dari empat sisi berbentuk lonjong, dan diatur secara presisi dengan titik di pusatnya sebagai lambang sebuah kekuasaan. Hal ini tercermin pada pola dasar kekuasaan Kesultanan Mataram, dimana seorang raja berfungsi sebagai pelindung, pengayom, pemimpin, sekaligus simbol pemersatu seluruh elemen mulai dari rakyat hingga penguasa.

Dalam pandangan filsafat Kejawen masyarakat Jawa, formasi geometris empat sisi yang berpusat pada satu titik di tengah berkaitan erat dengan simbolisasi ‘sedulur papat limo pancer’ (empat bersaudara dan lima sebagai pusatnya), sebuah falsafah Jawa Kuno dengan makna spiritual teramat dalam. Falsafah ini berbicara tentang kelahiran seorang manusia yang tidak lepas dari empat duplikasi penyertanya.

Seiring perkembangannya, motif batik kawung mulai dibuat dengan gaya corak yang beraneka ragam. Biasanya motif-motif kawung diberi nama berdasarkan ukuran besar-kecilnya corak bundar atau lonjong yang terdapat dalam motif tertentu, atau bisa juga hasil kombinasi dengan corak batik lain.

Berdasarkan ukuran, beberapa motif kawung dinamai menurut nama-nama koin yang beredar pada zaman penjajahan Belanda. Jika dilihat berdasarkan desain, rancangan utama batik kawung tetap bertahan, hanya saja terdapat sedikit modifikasi dengan ragam hias isen-isen. Namun ada pula corak kombinasi yang menambahkan ragam hias lain yang cukup mencolok.

Simak juga informasi lain terkait batik Indonesia dan kisah-kisah sejarahnya yang menarik. Bersama VELO, kantong nikotin pertama di Indonesia yang ditujukan untuk kamu yang sudah 18 tahun ke atas dan pengguna produk yang mengandung nikotin, bukan perempuan hamil atau menyusui, menikmati sensasi nikotin jadi lebih mudah dan praktis! Tanpa asap, bebas tembakau, tinggal pop, set & go! Berbagai varian rasanya bisa kamu pilih sesuai selera. Selain itu, VELO bisa dinikmati dengan nyaman kapan saja dan dimana saja tanpa khawatir mengganggu orang lain.

Henki Taher
For the last few years, Hengky living as a digital nomad and currently settled in Denpasar. As a writer, he is interested in a certain topic such as pseudoscience, culture, art, and lifestyle.

Related Articles

Leave a Reply