Aquarium Bahari: Cagar Budaya Indonesia yang Terbengkalai

Kampung akuarium adalah kawasan dengan luas hingga 10.384meter yang terletak di daerah Penjaringan, Jakarta Utara. Kampung aquarium ini sering dijuluki sebagai aquarium bahari. Berbeda dengan museum bahari, ternyata ada peninggalan khusus di museum tersebut loh. Sehingga dinobatkan sebagai peninggalan cagar budaya.

Lokasinya yang menjadi tempat pemukiman penduduk waktu itu sekarang telah rata dengan tanah, sehingga sejarahnya pun hilang begitu saja. Padahal, kampung akuarium telah menjadi cagar budaya di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1898. 

Terletak di daerah Pelabuhan Sunda Kelapa yang sudah terkenal dengan perdagangan yang berkembang sejak abad ke 16. Selain itu, berdirinya Tanjung Priok pada masa penjajahan Belanda pada abad ke 19 semakin membuat daerah Jakarta Utara pada masa sekarang kental dengan peninggalan bukti sejarahnya. 

Bagi kamu yang belum tau apa itu kampung aquarium bahari, dan bagaimana bisa menjadi peninggalan cagar budaya, simak sejarah nya berikut ini! 

Sejarah Singkat Aquarium Bahari 

Sejarah di kampung akuarium berawal pada tanggal 10 Januari tahun 1898. Awalnya, tempat tersebut difungsikan sebagai laboratorium dengan Dr. J. C Koningsberger yang menjadi kepala Zoologi Pertanian Laboratorium di Kebun Raya Bogor saat masa pemerintahan Hindia Belanda. 

Sejak itu, Koningsberger mencari lokasi yang tepat untuk mendirikan laboratoriumnya di Teluk Jakarta pada tahun 1904. Dia mendapatkan tanah yang terletak di utara Pasar Ikan, di dekat Oude Haven Kanal yang sekarang dikenal dengan Pelabuhan Sunda Kelapa. 

Pembangunan mulai dilakukan di kawasan Pasar Ikan tersebut pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1905. Laboratorium itu pun diberi nama Visscherij Laboratorium Batavia atau Laboratorium Perikanan yang terletak di Batavia. Setelah itu, laboratorium tersebut lebih dikenal sebagai Visscherij Station atau Stasiun Perikanan. 

Pada tahun 1922, tempat tersebut dibangun kembali sebuah laboratorium yang lebih besar dan tambahan gedung akuarium dengan ukuran yang besar. Siapa sangka, jika akuarium tersebut menjadi yang pertama di Indonesia dan di Asia Tenggara. 

Akuarium tersebut terkenal hingga tahun 1960-an, yang menjadi tempat favorit untuk berwisata di Jakarta. Apalagi jika sudah lebaran atau hari libur panjang. Namun, sayangnya kawasan museum harus ditutup pada tahun 1970. Sebab ingin mengembangkan kawasan Museum Bahari yang berada di dekat kampung akuarium. 

Akhirnya, laboratorium kelautan pun dipindahkan di daerah Ancol yang kini dikenal sebagai Pusat Penelitian Oseanografi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Sejak itulah, kampung akuarium menjadi terbengkalai, karena proses pembangunan yang tidak jelas arahnya hingga banyak orang yang membuat pemukiman untuk tinggal. 

Menjadi Kawasan Cagar Budaya 

Kampung aquarium bahari telah berdiri puluhan tahun lamanya, jauh sebelum Pelabuhan Tanjung Priok didirikan. Oleh karena itu, Pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan aturan pada Perda Nomor 1 Tahun 2014 mengenai Rencana Detail Tata Ruang yang menjelaskan bahwa kampung akuarium masuk kedalam kategori zona merah atau masuk ke kawasan pemugaran cagar budaya di kota tua atau Sunda Kelapa. 

Maka dari itu, sempat terjadi perdebatan di kawasan tersebut karena banyaknya pemukiman, rumah susun, rumah dinas, tempat ibadah, pasar tradisional, pemakaman, sarana transportasi yang dibangun di kawasan kampung akuarium. 

Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, pemukiman di kawasan tersebut terpaksa digusur pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2016 akhir saat kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja dengan alasan tidak sesuai untuk digunakan sebagai pemukiman dan ingin dilakukan revitalisasi cagar budaya karena merupakan bangunan dengan nilai sejarah tinggi. 

Frista Kurniasari
Talented professional good multitasking, organizational and verbal and written communication skills. Expertise includes writing content on topics such as Lifestyle, Humanity, Education and Travel.

Related Articles

Leave a Reply