7 Bentuk Kesalahpahaman Soal Feminisme Yang Sering Dilakukan

Sebagai kaum intelektual, kamu pasti sudah pernah mendengar istilah feminisme. Feminisme merupakan sebuah paham atau gerakan sosial yang tujuan utamanya adalah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan di berbagai bidang kehidupan demi terwujudnya kesetaraan gender.

Saat mendengar kata feminisme, banyak orang yang berpikiran bahwa paham atau gerakan ini dipenuhi oleh anggota-anggota perempuan. Padahal sejatinya feminisme bukan hanya untuk kaum perempuan, tetapi juga untuk kaum laki-laki. Selagi ia berdiri untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, sekalipun ia adalah laki-laki, maka ia dapat disebut sebagai feminis.

Pemberian nama “feminisme” yang terkesan “feminim” sebenarnya diawali dari sejarah di mana para ahli menggaris-bawahi permasalahan yang diangkat, yakni masalah-masalah tentang perempuan yang dibatasi pergerakannya di berbagai bidang, mulai dari bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, ruang publik, dan sebagainya.

Selain kesalahpahaman tersebut, terdapat banyak kesalahan lain yang berkaitan dengan pandangan masyarakat mengenai feminisme. Yuk, kita bahas satu per satu dalam artikel di bawah ini!

Kaum feminis adalah kaum pembenci laki-laki

Apakah kamu salah satu orang yang menganggap bahwa gerakan feminisme berarti gerakan membenci laki-laki? Jika iya, sebaiknya kamu mengubah mindset tersebut karena dengan menjadi aktivis feminisme, seseorang bukan berarti membenci kaum laki-laki.

Tentu saja kamu tidak sendiri memiliki pemikiran demikian. Hal ini dikarenakan anggapan bahwa feminisme berarti membenci laki-laki merupakan anggapan paling populer dan kuno tentang feminisme.

Feminisme bukan merupakan ideologi yang menyebarkan kebencian untuk kaum laki-laki, namun sebuah gerakan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Dua hal ini tentu sangat berbeda.

Feminisme bertujuan untuk melemahkan laki-laki

Kesalahpahaman tentang feminisme ini sejalan dengan adanya anggapan bahwa kaum feminis menebar kebencian terhadap laki-laki. Banyak orang beranggapan bahwa para feminis berusaha melemahkan dan menjatuhkan kaum laki-laki untuk dapat mencapai kesetaraan gender.

Padahal, feminisme bertujuan untuk membangun relasi gender yang lebih baik tanpa melemahkan gender manapun.

Tujuan feminisme hanya untuk membantu kaum perempuan

Lagi-lagi ini soal anggapan bahwa gerakan feminisme hanya dipenuhi oleh kaum perempuan. Secara garis besar, feminisme memang dibuat untuk memperjuangkan berbagai hak dasar perempuan. Namun tujuannya tak lain adalah untuk mencapai kesetaraan gender.

Oleh karena itu, feminisme sejatinya tidak hanya membantu kaum perempuan, tetapi juga membantu kaum laki-laki untuk keluar dari berbagai ikatan rantai stereotip.

Kamu tentu pernah mendengar kalimat-kalimat yang melarang laki-laki untuk menangis, bahwa mereka harus kuat, bahwa mereka tidak perlu menggunakan riasan wajah, dan sebagainya.

Pada kenyataannya, banyak kaum laki-laki yang merasa terganggu dengan stereotip tersebut. Oleh karena itu, feminisme juga membantu menyuarakan opini para kaum laki-laki yang tentu saja bisa menangis, bisa saja lemah, dan bisa saja tertarik dengan riasan wajah.

Pengikut feminisme sudah pasti ateis

Di Indonesia, anggapan bahwa kaum feminis adalah ateis merupakan salah satu anggapan populer yang berkembang pesat. Hal ini mungkin dikarenakan beberapa agama di Indonesia menerapkan berbagai ajaran-ajaran yang bersifat patriarkial, di mana kaum laki-laki dianggap memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dibanding kaum perempuan.

Namun, jika dilakukan observasi lebih jauh tentang latar belakang agama dan kepercayaan para kaum feminis, banyak di antara mereka yang tetap percaya dengan keberadaan Tuhan. 

Keputusan mereka untuk aktif dalam paham dan gerakan feminisme kemungkinan besar didasari karena mereka merasa ada ketidakadilan gender di berbagai bidang kehidupan sosial. 

Feminis selalu menentang pernikahan

Jika kita telusuri lebih jauh tentang paham feminisme, memang benar banyak kaum feminis yang menentang pernikahan. Namun feminis tersebut masuk ke kategori feminisme yang ekstrim, contohnya seperti feminisme radikal dan feminisme anarkis. Namun tentu saja tidak semua feminis demikian.

Pada dasarnya, gerakan feminisme memang berusaha untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, namun ia tidak membenci kaum laki-laki. Oleh karena itu, gerakan feminisme tidak boleh disamakan dengan gerakan menentang pernikahan. Karena jika ditelusuri lebih lanjut, banyak kaum feminis yang membangun rumah tangga dan memiliki anak.

Feminisme adalah gerakan sosial yang hanya dianut oleh masyarakat Barat

Siapa bilang feminisme hanya dianut oleh masyarat Barat? Saat ini di Indonesia pun sudah banyak kita temukan berbagai gerakan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok feminis. 

Anggapan bahwa feminisme adalah konsep barat merupakan salah satu kritik terbesar gerakan feminis di masa lalu. 

Memangbsaat ini feminisme dikenal sebagai sebuah gerakan yang sangat Eropa-sentris dan didikte atau digerakkan oleh perempuan dari kelas ekonomi menengah berkulit putih. 

Padahal, gerakan feminisme sebenarnya sudah ada sejak dulu bukan hanya di Eropa, tetapi juga di berbagai negara non-Barat seperti Amerika Selatan, Asia, hingga Afrika, dan tentu saja permasalahan yang diangkat berbeda-beda sesuai wilayahnya.

Feminis tidak menggunakan rias wajah

Banyak orang yang memiliki anggapan bahwa feminis sejati pasti tidak mau menggunakan rias wajah. Hal ini dikarenakan orang-orang berpikir bahwa para feminis menganggap riasan wajah sebagai “penjara” yang menunjukkan bahwa kaum perempuan hanya dinilai dari fisiknya saja.

Padahal tentu anggapan ini salah. Banyak aktivis feminisme yang senang menggunakan riasan wajah. Karena selagi tidak merasa terpaksa, kenapa tidak? Sekali lagi, poin utama gerakan feminisme sebenarnya difokuskan pada peran sosial, bukan soal menggunakan riasan wajah atau tidak.

Nah, itulah beberapa kesalahpahaman tentang gerakan feminisme yang paling populer dan mungkin kamu sendiri sering temukan di lingkungan tempat tinggalmu. Apakah kamu termasuk salah satu orang yang mempercayai anggapan-anggapan di atas?

Related Articles

Leave a Reply