5 Fakta Jalan Dago, Ikon CFD Bandung yang Terkenal

Belum ke CFD Bandung namanya kalau tidak datang ke Jalan Dago. Kawasan ini memang sangat terkenal, tidak hanya di kalangan warga lokal Bandung saja tetapi juga wisatawan dari berbagai kota. Jalan Dago kini telah berganti nama menjadi Jalan Ir. H. Juanda. Namun tetap saja banyak orang masih menyebutnya Dago, jalanan legendaris di ibu kota Jawa Barat itu.

Bukan tanpa alasan Dago menjadi kawasan yang paling banyak dikunjungi di Bandung. Sepanjang jalan ini terasa sejuk karena dikelilingi oleh pohon tinggi besar, ditambah meja dan kursi yang cocok banget buat ngobrol-ngobrol.

Ingin tahu lebih banyak soal Dago? Berikut ini 5 fakta menarik yang wajib kamu ketahui.

  1. Dulunya berupa hutan sepi

Meski kini Dago telah menjadi landmark yang terkenal, bahkan dijadikan pusat kegiatan CFD Bandung setiap Minggu pagi, ternyata dulu kawasan ini adalah hutan rimba. Di masa penjajahan Belanda, Dago cenderung dihindari masyarakat karena banyak binatang buas di dalamnya, terutama di daerah yang sekarang dibangun terminal Dago.

Kondisi yang seperti ini membuat penduduk di masa itu enggan untuk mendekati kawasan Dago. Sangat berbeda dengan keadaan saat ini dimana Dago justru menjadi spot favorit untuk berkumpul.

  1. Namanya diambil dari Bahasa Sunda

Bicara soal asal usul nama Dago, kisahnya cukup unik. Kawasan Dago yang dulu terkenal menyeramkan ini membuat warga ketakutan. Sehingga mereka yang tinggal di daerah Bandung Utara dan hendak pergi ke kota akan menunggu penduduk lainnya untuk pergi secara berkelompok.

Mereka pun berkumpul di pinggiran kawasan Dago dan saling menunggu satu sama lain. Dago diambil dari Bahasa Sunda “dagoan” yang artinya menunggu.

  1. Dago dibangun oleh Pemerintah Belanda

Sebagai salah satu wilayah yang dijajah Belanda cukup lama, kemajuan kota Bandung tidak lepas dari campur tangan mereka. Selain Dago yang menjadi pusat kegiatan CFD Bandung, di kota ini juga banyak ditemukan bangunan khas Belanda yang artistik.

Pembangunan kawasan Dago baru dimulai sekitar tahun 1900, yaitu Hotel Jayakarta dan rumah Andre Van der Brun yang terletak di sebelahnya. Hingga saat ini, kedua bangunan tersebut masih ada. Pembangunan Dago semakin berkembang dengan adanya Dago Tea House atau Dago Tee Huizz, sebuah restoran untuk para bangsawan Belanda yang ingin bersantai.

  1. ITB juga dibangun oleh Belanda

Pemerintah Belanda terus melakukan pembangunan di kawasan Dago. Tidak hanya rumah tinggal dan bangunan komersial saja, mereka juga membangun ITB (Institut Teknologi Bandung), yang sampai sekarang gedungnya masih berada di Jalan Dago. dulunya, ITB bernama Techniche Hoogeschool te Bandoeng, yang didirikan pada tanggal 3 Juli 1920.

ITB menjadi perguruan tinggi teknik pertama di Indonesia, atau yang saat itu masih disebut sebagai Hindia Belanda. Tujuan pendirian ITB oleh Belanda adalah memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang semakin sulit karena hubungan antara Belanda dan wilayah jajahannya semakin memburuk.

  1. Dago, jalanan yang tidak pernah mati

Di masa modern ini, Dago menjadi kawasan yang wajib dikunjungi. Meski setiap hari selalu ramai, tapi Dago paling pas dinikmati saat CFD Bandung. Kamu bisa berjalan di sepanjang kawasan Dago dan melihat satu per satu bangunan bersejarah yang ada di sana. 

Dago juga terkenal dengan berbagai kuliner khas Bandung lho. Nggak perlu khawatir, kawasan Dago buka 24 jam kok. Jadi kapanpun kamu mau pergi berkunjung, kamu bisa menikmati ragam kuliner yang berbeda di siang dan malam hari.
Saat menikmati kegiatan CFD bersama banyak orang, ingatlah untuk selalu mempedulikan kenyamanan sekitar. Salah satunya dengan menahan keinginan untuk merokok. Untuk menikmati nikotin di tengah keramaian seperti CFD, ada alternatif baru yaitu dengan kantong nikotin yang tidak menyebabkan asap. VELO sebagai kantong nikotin pertama di Indonesia, yang ditujukan hanya untuk kamu yang sudah 18 tahun ke atas dan pengguna produk yang mengandung nikotin, bukan perempuan hamil atau menyusui, mampu memberikan sensasi nikotin selama 20 sampai 30 menit hanya dengan menyelipkannya di antara gusi dan mulut bagian atas.

Indah Ariviani
Indah is an experienced writer specializes in lifestyle, design, and finance, who occasionally lost in her imaginations.

Related Articles

Leave a Reply