5 Bentuk Logical Fallacy, Jangan-jangan Kamu Sering Melakukannya

Di era digital seperti saat ini, banyak orang menghabiskan waktu untuk mengeksplorasi internet. Tidak jarang kita menemukan pengguna internet melakukan debat online, terutama di media sosial.

Debat sih debat, berargumen sih berargumen, tapi apakah argumen yang disampaikan sudah benar dan sesuai fakta atau malahan hanya sebuah logical fallacy?

Logical Fallacy sendiri dapat diartikan sebagai sebuah pernyataan yang salah karena adanya penarikan kesimpulan yang salah, bahasa yang salah, atau bukti yang tidak valid. Istilah lain dari hal ini sering disebut sebagai “sesat pikir”. Singkatnya, logical fallacy dapat kita artikan sebagai kesalahan dalam penalaran yang membuat argumen seseorang menjadi tidak valid.

Tidak hanya di jagat internet, terutama media sosial, kita juga kerap memberikan atau menemukan berbagai argumen di dunia nyata, baik tentang masalah politik, pendidikan, hingga masalah-masalah kecil seperti argumen tentang penampilan seseorang.

Memang memberikan argumen adalah bagian dari hak asasi manusia, namun bagaimana jika argumen yang diberikan ternyata merupakan sebuah logical fallacy yang berpotensi membuat orang lain sakit hati atau menimbulkan dampak negatif lainnya?

Karena itu, kamu sebagai orang yang senang argumennya didengar, harus memahami konsep logical fallacy.

Sebenarnya terdapat banyak bentuk logical fallacy, namun dalam artikel ini kamu akan menemukan 5 di antaranya. Kelima kesalahan penalaran tersebut merupakan bentuk logical fallacy yang paling sering ditemukan di Indonesia dan mungkin kamu pun sering melakukannya tanpa sengaja.

Yuk, cari tahu dengan membaca artikel ini sampai selesai!

  1. Argumentum ad baculum

Bentuk logical fallacy yang terjadi pada argumentum ad baculum didasarkan pada paksaan. Dalam hal ini seseorang menyampaikan argumen dengan cara memaksa bahkan mengancam orang lain agar setuju dengan argumennya.

Ancaman yang diberikan tidak hanya bersifat verbal melalui seruan kata-kata atau penggunaan kalimat yang dianggap kasar. Seseorang yang terlibat argumentum ad baculum dapat mengancam orang lain dengan kekerasan fisik demi memenangkan argumen yang telah ia buat.

Salah satu contoh logical fallacy ini mungkin bisa kamu temukan di lingkungan kerja. Katakanlah ada seorang karyawan yang bekerja di bidang humas di sebuah perusahaan ternama. Saat itu muncul sebuah berita negatif tentang perusahaan tersebut. Dalam berita negatif yang tengah beredar terungkap beberapa hal negatif yang dilakukan oleh perusahaan terhadap para pekerjanya, namun beberapa isu memang tidak benar.

Sang pemilik perusahaan meminta humasnya melakukan klarifikasi dengan mengatakan bahwa semua berita negatif tersebut adalah hoaks. Sementara itu, sang humas memberikan pendapat lain tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan, mengingat beberapa berita memang terbukti benar.

Karena tidak terima dengan argumen yang disampaikan karyawannya, sang pemilik usaha mengancamnya akan dipecat apabila tidak melakukan apa yang ia mau. Hal ini adalah salah satu bentuk argumentum ad baculum.

  1. Argumentum ad hominem

Argumen ini juga digunakan untuk melawan argumen lain, namun argumentum ad hominem selalu tidak berdasarkan fakta dan logika, serta sering tidak berkaitan dengan topik yang tengah dibahas atau terjadi.

Bentuk dari logical fallacy yang satu ini berupa serangan terhadap karakter pribadi orang lain. Tujuannya adalah untuk memancing emosi orang tersebut.

Pernahkah kamu membaca komentar di media sosial? Katakanlah Instagram milik selebritas. Di sana kamu dapat menemukan beberapa orang berdebat, kemudian seseorang yang merasa argumennya lemah tiba-tiba menyampaikan kalimat yang bersifat menghina, terutama berbicara soal fisik.

Dengan memahami contoh tersebut, tentu saja kamu tahu bahwa argumentum ad hominem bukan merupakan sebuah upaya untuk memecahkan suatu masalah atau menyelesaikan perdebatan.

  1. Argumentum ad misericordiam

Argumen ini mengandalkan belas kasihan untuk melawan argumentasi orang lain. Sama seperti argumentum ad hominem, argumentasi yang diberikan di sini kerap tidak sesuai dengan hal yang sedang terjadi.

Hal ini mungkin sering kamu temukan di beberapa program TV pencarian bakat. Terkadang ada peserta yang memiliki kemampuan baik namun tidak sesuai dengan standar program TV tersebut. Untuk ‘menghasut’ agar tetap memilihnya, ia kemudian memaparkan cerita-cerita sedih yang terjadi dalam hidupnya.

Kondisi kasihan membuat juri memutuskan peserta tersebut dapat ikut ke tahap selanjutnya. Inilah yang disebut dengan argumentum ad misericordiam.

  1. Argumentum ad populum

Dalam argumen ini, kesalahan dapat terjadi pada sesuatu yang dianggap sebagai sebuah kebenaran hanya karena dipercaya oleh banyak orang.

Salah satu contoh logical fallacy ini juga dapat kita temukan di jagat media sosial. Misalnya pemerintah membuat sebuah keputusan. Kemudian, ada sekelompok orang yang tidak setuju terhadap keputusan tersebut.

Mereka akhirnya membuat kampanye melalui berbagai publikasi media sosial. Akhirnya mereka berhasil mengumpulkan orang-orang yang juga sependapat dengan mereka.

Logical fallacy dapat ditemukan ketika orang lain di luar mereka kemudian melakukan repost terhadap publikasi media sosial yang sudah ada. Hal ini menunjukkan mereka juga setuju karena melihat banyak orang berpendapat sama. Padahal mereka belum tentu memahami isu yang sedang terjadi.

  1. Argumentum ad vercundiam

Argumen ini merupakan kebenaran yang dipercaya karena berasal dari seseorang yang populer atau seorang pakar. Meskipun pakar tersebut memberikan argument yang tidak valid, ia akan tetap dianggap benar karena ia dianggap mengetahui hal tersebut.

Misal seorang pakar ekonomi berdebat dengan pakar sejarah mengenai kenaikan harga barang di suatu negara. Meskipun pakar sejarah memberikan argumen yang lebih sesuai dengan fakta, argumen dari pakar ekonomi tetap menjadi argumen yang dianggap benar.

Demikian 5 bentuk logical fallacy yang sering kita temukan di kehidupan sehari-hari. Apakah kamu pernah terlibat dengan salah satunya?

Nah kamu tahu argumentasi yang tidak selesai seringkali membuatmu bosan. Tidak ada salahnya kamu mencoba inovasi baru dengan menggunakan VELO, produk nikotin bagi kamu yang merupakan pengguna produk nikotin yang sudah berusia 18 tahun atau lebih, bukan perempuan hamil atau menyusui, sebagai alternatif dan cara praktis dalam merasakan sensasi nikotin!

Related Articles

Leave a Reply